,

Amerika Sebut Myanmar Lakukan Pembersihan Etnis terhadap Rohingya

Militer miyanmar via: dw.com

Militer.me  – Sekretaris Negara Amerika Serikat (AS), Rex Tillerson, mengatakan bahwa tindakan militer Myanmar terhadap populasi minoritas Muslim Rohingya merupakan pembersihan etnis. Pernyataan Tillerson ini datang beberapa hari sebelum kunjungan Paus Franciscus ke Myanmar.

Tillerson mengatakan Rohingya telah mengalami kekejaman yang mengerikan. Sebagai akibatnya, AS mempertimbangkan untuk menjatuhkan sanksi yang ditargetkan terhadap mereka yang bertanggung jawab.

“Setelah melakukan analisis menyeluruh terhadap fakta-fakta yang ada, jelas bahwa situasi di negara bagian Rakhine utara merupakan pembersihan etnis terhadap Rohingya,” kata Tillerson dalam sebuah pernyataan.

“Pelanggaran ini oleh beberapa orang diantaranya militer Myanmar, pasukan keamanan, dan warga setempat telah menyebabkan penderitaan yang luar biasa dan memaksa ratusan ribu pria, wanita, dan anak-anak untuk meninggalkan rumah mereka di Myanmar untuk mencari perlindungan di Bangladesh,” sambungnya seperti dikutip dari BBC, Rabu (22/11/2017).

Ia mengatakan AS menginginkan penyelidikan independen atas kejadian di negara bagian Rakhine dan sanksi terhadap mereka yang bertanggung jawab dapat menyusul.

“Mereka yang bertanggung jawab atas kekejaman ini harus dimintai pertanggungjawabannya,” tegasnya.

Komentar Tillerson mencerminkan sikap keras AS terhadap Myanmar dalam beberapa hari ini. Dalam satu hari kunjungan ke negara itu pekan lalu, dia mengatakan bahwa Washington sangat prihatin dengan laporan tentang kekejaman yang meluas.

Ia pun mendesak pemerintah dan pasukan keamanan Myanmar untuk menghormati hak asasi manusia dari semua orang yang berada di dalam batasannya.

Retorika AS yang lebih ketat muncul setelah sebuah delegasi, yang dipimpin oleh Senator Jeff Merkley, baru-baru ini kembali dari kunjungan ke Myanmar dan Bangladesh.

Anggota delegasi tersebut mengatakan bahwa mereka terganggu oleh laporan serangan terhadap Rohingya, termasuk pemerkosaan dan pembunuhan anggota keluarga.

Sebelumnya pada bulan September lalu, kepala hak asasi manusia PBB Zeid Raad Al Hussein juga menuduh Myanmar melakukan pembersihan etnis.

Rohingya adalah minoritas tanpa kewarganegaraan yang telah lama mengalami penganiayaan di Myanmar, juga dikenal sebagai Burma. Lebih dari 600 ribu orang telah melarikan diri ke negara tetangga Bangladesh sejak kekerasan meletus di negara bagian Rakhine pada akhir Agustus.  sindonews