,


Dulu Membantah, Mengapa Kini Militer Myanmar Akui Bunuh Rohingya?

Militer Myanmar foto militermeter.com

Militer.me – Setelah berbulan-bulan menyangkal, Myanmar akhirnya mengakui militernya terlibat dalam pembunuhan warga Rohingya di Rakhine. Pengamat menilai, Myanmar sengaja mengalihkan tanggung jawab kepada sejumlah tentara nakal yang disebut bertindak sendiri tanpa melapor.

Operasi militer yang digelar Myanmar di Rakhine tahun lalu, telah memicu gelombang pengungsi Rohingya hingga 655 ribu orang. Mereka yang melarikan diri ke Bangladesh mengungkapkan pengakuan mengerikan soal pembunuhan massal, pemerkosaan dan penyiksaan oleh militer Myanmar.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sendiri bahkan menyebut operasi militer Myanmar di Rakhine mengarah pada praktik pembersihan etnis. Dengan gencar, Myanmar menyangkal berbagai tudingan yang diarahkan kepadanya. Mereka bahkan menuding para pengkritik, termasuk PBB, sebagai pro-Rohingya dan menyebarkan ‘berita palsu’.

Pekan ini, sikap Myanmar tiba-tiba berubah. Dengan mengutip laporan penyelidikan internal, militer Myanmar mengakui ada empat tentaranya yang membantu pembunuhan 10 warga Rohingya di Rakhine pada 2 September lalu. Namun mereka menyebut 10 orang yang dibunuh sebagai ‘teroris Benggala’ yang saat ditangkap karena menyerang militer Myanmar. Jenazah 10 orang itu ditemukan di dalam kuburan massal dekat desa Inn Din.

“Ditemukan bahwa insiden ini tidak dilaporkan kepada level di atasnya,” demikian bunyi pernyataan militer Myanmar. Pengakuan militer Myanmar ini juga diposting dalam akun Facebook Komandan Militer Myanmar Min Aung Hlaing.

Seperti dilansir AFP, Kamis (11/1/2018), para pengamat berusaha menilai ada apa di balik berubah sikapnya Myanmar terkait tudingan kekerasan pada Rohingya ini.

“Pengakuan mengerikan ini merupakan kepergian tajam dari kebijakan penyangkalan total atas pelanggaran apapun yang diterapkan militer sebelumnya,” sebut James Gomez yang merupakan Direktur Regional Amnesty International untuk Asia Tenggara dan Pasifik. “Namun, ini baru ujung dari bongkahan es besar,” imbuhnya, sembari mendorong penyelidikan independen terhadap tudingan lainnya digelar.

Sejumlah pengamat lainnya menyebut langkah militer Myanmar yang bertolak belakang ini menjadi upaya untuk mengambil kembali kendali atas situasi setelah rentetan rumor soal pembunuhan di luar hukum di Inn Din menyeruak.

Pengakuan militer Myanmar ini disampaikan pada hari yang sama saat dua wartawan Reuters didakwa secara resmi atas pelanggaran Official Secrets Act. Kedua jurnalis Reuters yang warga Myanmar itu ditangkap saat meliput operasi militer Myanmar di Rakhine, namun tak diketahui pasti apakah mereka secara khusus mengulas soal temuan kuburan massal di Inn Din.

“Pengakuan militer menunjukkan perasaan bersalah tentara dan komandan yang terlibat kekejaman massal,” sebut Matthew Smith dari Fortify Rights, sembari menyebut penangkapan dua jurnalis Reuters menjadi upaya ceroboh militer Myanmar untuk menutup jejak.

Khin Zaw Win dari Tampadipa Institute yang berbasis di Yangon mengungkapkan spekulasi bahwa militer Myanmar kini ‘tidak memiliki pilihan kecuali jujur’.

Terlebih pada Desember tahun lalu, Amerika Serikat menjatuhkan sanksi terhadap Jenderal Maung Maung Soe yang memimpin Komando Barat pada operasi Rakhine. Sanksi itu, dinilai Khin, mengguncang tubuh militer Myanmar. “Menutup-nutupi akan berdampak buruk bagi mereka… bisa jadi ada sanksi untuk jenderal lainnya,” sebut Khin.

Sumber: Detik.com