,

Operasi Militer Amerika di Seluruh Dunia bisa Macet apabila Pemerintahan Trump ‘Shutdown’

Tentara Amerika via https://pixabay.com/p-1002/

Militer.me – Bila pemerintahan Amerika Serikat di bawah kendali Presiden Donald Trump menutup layanan permintahan alias Shutdown, diakibatkan tidak sudah ada kesepakatan anggaran untuk 2018, maka dari itu dampaknya hendak luas.

Selain karyawan pemerintah hendak dirumahkan dan tidak menerima gaji, layanan penting seperti militer dan sipir penjara juga, terancam terlambat menerima gaji.

Dikutip dari Reuters, Sabtu (20/1/2018), Menteri Pertahanan Amerika Serikat James Norman Mattis menyampaikan penutupan pemerintah itu berakibat jelek dalam operasi militer Pentagon di semua dunia.

Operasi militer itu membutuhkan biaya tinggi, dapat jadi operasi militer AS yang meliputi operasi pelatihan, pemeliharaan, dan intelejen, hendak berhenti.

”Aktivitas pemeliharaan kita mungkin hendak cukup banyak yang ditutup. Kita melaksanakan banyak operasi intelijen di semua dunia dan harganya mahal, mereka tepat hendak berhenti,” ujar Mattis menanggapi pertanyaan wartawan tentang dampak dari potensi pemerintah Donald Trump Shutdown, Sabtu (20/1/2018).

Dikutip dari Kompas.com, Sabtu (20/1/2018) harusnya menjadi momen yang spesial buat Donald Trump. Karena, dia bakal merayakan setahun pertama jabatannya sebagai Presiden Amerika Serikat ( AS).

Tetapi, momen spesial disebutkan terancam tidak hendak dapat dirayakan di kediaman pribadinya di Mar-a-Lago, Florida.

Karena, AS bakal menghadapi penutupan layanan pemerintahan (Shutdown) sesudah tidak sudah ada kesepakatan di Kongres dan pemerintah mengenai anggaran pemerintah untuk 2018.

Bila terjadi shutdown, maka dari itu dampak yang terjadi ialah pemerintah dapat menutup hampir setiap layanan, kecuali sektor penting seperti kesehatan, militer, maupun penegakkan hukum.

Karyawan sipil pemerintah federal bakal terkena furlough (dirumahkan tanpa menerima gaji).

Selain itu yang tidak terkena furlough, seperti personel militer atau sipir penjara, terancam terlambat menerima gaji.

Dilansir Sky Information, AS terancam shutdown dikarenakan baik Demokrat dan Republik berselisih paham mengenai 1 produk legislasi: Penangguhan Langkah buat Imigran Anak-anak (DACA).

DACA ialah software perlindungan buat imigran anak-anak, atau Dreamer, yang datang ke AS.

Software disebutkan diciptakan di period Presiden Barack Obama dalam 2012 untuk menjaga sekeliling 700.000 Dreamer di sana.

Tetapi, dalam September, Trump memutuskan untuk menghentikan software disebutkan, dan menyebarkan DACA bakal berakhir Maret 2018.

Senat dari kubu Demokrat menyatakan siap meloloskan anggaran yang diajukan pemerintah apabila DACA dilanjutkan.

Sumbr: Tribun Jabar