,

Citra Satelit Tunjukkan Pergerakan Pasukan Besar Korea Utara

Pasukan khusus Korea Utara (Korut) saat parade militer beberapa bulan lalu. Foto/REUTERS/Damir Sagolj

Militer.me  –  Citra satelit komersial menunjukkan adanya pergerakan pasukan besar dalam sebuah pawai di Korea Utara (Korut). Pergerakan pasukan rezim Kim Jong-un itu diduga sebagai persiapan parade militer besar-besaran awal Februari nanti.

Pyongyang menyatakan 8 Februari akan dianggap sebagai ulang tahun pendirian baru tentara Korut. Tanggal asli ulang tahun tentara Korut di masa lalu adalah 25 April. Tanggal 8 Februari secara tidak langsung sebagai “sambutan” untuk Olimpiade Musim Dingin Pyeongchang di Korea Selatan yang dimulai pada 9 Februari.

Setiap ulang tahun militer, rezim Kim Jong-un selalu memamerkan kekuatan pasukannya. Mengutip laporan sejumlah media AS, satelit komersial Planet mengambil gambar gerakan pasukan Korut pada tanggal 11 Januari.

Gambar satelit ini menunjukkan ratusan kendaraan tentara yang diparkir di salah satu sisi lapangan di dekat sebuah bandara di Pyongyang. Selain itu juga ada kelompok tentara dalam sebuah formasi di daerah yang sama.

”Parade tersebut tampaknya melibatkan 28 formasi infanteri atau personil militer lainnya, sebuah band militer tradisional, dan mungkin personel tambahan,” tulis Scott LaFoy dalam analisisnya untuk NK News, yang dikutip Kamis (25/1/2018).

The Mirim Parade Training Ground, di dekat bandara Mirim, sering digunakan untuk parade militer besar-besaran oleh Korut. Pyongyang biasanya menggunakan parade semacam itu untuk menarik perhatian seluruh dunia tentang arsenal persenjataannya yang terus bertambah.

Sebelum laporan dari citra satelit itu muncul, seorang pejabat pemerintah Korea Selatan mengatakan kepada kantor berita Yonhap bahwa hampir 13.000 tentara dan sekitar 200 peralatan militer terdeteksi di bandara yang sama. Hal itu diyakini merupakan latihan untuk parade militer yang akan digelar.

Keputusan mendadak Korut untuk memperingati ulang tahun berdirinya Tentara Rakyat Korea (KPA) terjadi ketika pemimpin Korut Kim Jong-un menunjukkan tanda-tanda berdamai hubungan dengan negara tetangganya, Korea Selatan, setelah terlibat ketegangan selama beberapa bulan di wilayah semenanjung Korea.

Sumber: Sindo