,

AS Bisa Buka Jalan bagi Saudi Memperoleh Senjata Nuklir

Rudal balistik antarbenua berhulu ledak nuklir Amerika Serikat di Pangkalan Angkatan Udara Malstrom, Montana. Foto/REUTERS/USAF/Airman John Parie

Militer.me – Arab Saudi hampir mencapai kesepakatan untuk pembelian reaktor nuklir Amerika Serikat (AS) yang secara finansial menguntungkan pemerintah Donald Trump.

Namun, Washington juga bisa membuka jalan bagi Riyadh untuk memperoleh senjata nuklir karena Saudi menolak pembatasan pengayaan uranium secara ketat yang berpotensi digunakan untuk membuat senjata nuklir.

Putra Mahkota Mohamed bin Salman, yang merupakan penguasa de facto di Kerajaan Arab Saudi, memiliki rencana ambisius untuk mendiversifikasi sumber energi negaranya dengan membeli reaktor tenaga nuklir.

Potensi transaksi menguntungkan terlalu bagus untuk dilewatkan pemerintah Trump. Menurut laporan media AS, pemerintah Trump sedang mempertimbangkan pelonggaran undang-undang AS untuk memenangkan kontrak Saudi yang bernilai miliaran dolar tersebut.

Kerajaan Arab Saudi telah menolak untuk terikat peraturan ketat AS yang membatasi pemrosesan ulang dan pengayaan uranium untuk produksi senjata nuklir.

Trump ingin sekali bertransaksi dengan Saudi, karena peluang menggiurkan itu bisa direbut pesaing AS seperti Rusia dan China.

Kepastian Saudi dan AS mencapai kesepakatan atau tidak soal pembelian reaktor nuklir itu akan diumumkan beberapa bulan mendatang.

Israel, yang sudah memiliki senjata nuklir sendiri, sangat menentang negara lain di Timur Tengah memperoleh senjata pemusnah massal itu. Tel Aviv selama ini gencar untuk menggagalkan kesepakatan apapun yang membuat negara lain di Timur Tengah memperoleh senjata nuklir.

Kebijakan AS sejatinya berusaha membatasi proliferasi senjata nuklir terutama di Timur Tengah, namun Trump kemungkinan tidak memiliki pilihan selain menurunkan pembatasan itu ketika bertransaksi dengan Arab Saudi.

Riyadh selama ini bersikeras bahwa program nuklir yang akan mereka rintis untuk tujuan damai. Namun, kerajaan kaya minyak di Teluk itu menolak untuk mengesampingkan haknya guna memperkaya uranium ke level produksi senjata nuklir.

”Saya tidak mengatakan Saudi ingin memperkaya uranium besok atau dalam waktu dekat, tapi mereka tidak ingin berkomitmen terhadap apapun yang melarang mereka melakukannya. Ini cukup politis,” kata pejabat senior Arab Saudi yang dikutip Wall Street Journal dengan syarat anonim, yang dilansir semalam (21/2/2018).

Komentar tersebut menimbulkan spekulasi bahwa salah satu tujuan program nuklir Saudi adalah untuk bersaing dengan Iran dan mempertahankan opsi untuk mengembangkan senjata nuklir.

Belum jelas sampai sejauh mana Trump akan bisa meyakinkan Kongres untuk menyetujui kesepakatan dengan Saudi tersebut. Menurut undang-undang AS, setiap ekspor teknologi nuklir melibatkan penandatanganan dokumen non-proliferasi yang dikenal sebagai kesepakatan 123. Uni Emirat Arab (UAE) pernah menandatangani dokumen itu pada tahun 2009 yang merupakan syarat paling ketat dan telah menjadi standar emas.

Namun, Saudi menolak standar emas dan administrasi Trump sekarang harus keluar dengan sebuah rencana baru yang tidak akan sepenuhnya menghalangi jalan Riyash untuk mendapatkan senjata nuklir.
(mas)

Sumber: Sindonews