,

Ini Sebab Kenapa 2 Sukhoi SU-35 Baru Tiba di Tanah Air Awal 2019

Sukhoi Su-35. (Foto: Sukhoi)

Militer.me – Menteri Pertahanan (Menhan), Ryamizard Ryacudu mempertegas bahwa dari 11 pesawat tempur Sukhoi SU-35 yang dipesan pada Rusia akan datang di awal tahun 2019 mendatang.

“Jadi dibuat dulu. Bukan langsung-langsung. Dibuat dulu dong. Satu tahun bangsa dibuat, bertahap, bertahap, bertahap ya. Awal tahun depan sudah ada,” kata Ryamizard dusai acara Pinhantanas di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, Rabu (21/2/2018).

Penuturan Ryamizard menggugurkan beredarnya kabar bahwa 2 pesawat tempur Sukhoi SU-35 itu akan datang pada bulan Oktober 2018 nanti. Ia pun tak menampik jika pemerintah memiliki target untuk mendatangkan 11 pesawat tempur tersebut di tahun 2020 mendatang.

Ya awal tahun depan kan baru dua dulu ya. Baru berturut-turut ya. 2020 ya (dipunuhi),” tuturnya.

Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad) itu mengatakan, dengan membeli 11 pesawat Sukhoi tersebut, pemerintah pun bisa menghemat uang negara sebesar Rp5 triliun. “Pembelian Sukhoi hemat Rp5 triliun karena kita (awalnya) beli 8, tapi sekarang 11. 50 persen. Murah, murah tuh 50 persen,” kata Ryamizard.

Seperti diketahui, penandatanganan kontrak pembelian 11 unit Sukhoi Su-35 antara Indonesia dan Rusia sudah dilaksanakan pada 14 Februari 2018 lalu. Sebelumnya juga dikabarkan, Jakarta ingin membeli sepuluh jet tempur multirole Su-35 yang akan menggantikan pesawat Tiger F-5 yang sudah ketinggalan zaman dari pabrik AS, yang telah digunakan militer Indonesia sejak tahun 1980.

Su-35 adalah jet tempur multirole generasi 4 ++ yang sangat canggih dengan dilengkapi radar array bertahap on-board dan mesin kontrol vektor dorong (TVC).

Analis Pertahanan dan Alutsista TNI Jagarin Pane menilai kontrak seri pertama pembelian sedikitnya 10 jet tempur Sukhoi SU-35 dari Rusia lengkap dengan persenjataannya adalah kabar baik. Jet tempur Sukhoi SU35 adalah sebuah pencapaian yang diidamkan tentara langit Indonesia dan akan menambah perbendaharaan kepemilikan Sukhoi Family menjadi 26 unit.

“Secara kuantitas pembelian 10 unit SU35 tentu belum memadai tetapi secara penguasaan teknologi tentu menggembirakan. Dan kita berharap paling tidak ada 1 skadron SU35 ikut mengawal dirgantara NKRI,” kata Jagarin seperti dilansir NUSANTARANEWS.CO, 5 Mei 2017 lalu.

Menurut Jagarin, kedatangan Flanker E, julukan NATO untuk si SU35 setidaknya akan memberikan menu baru bagi kegiatan operasional TNI AU. Menu itu tentu menggairahkan. “Sukhoi SU-35 adalah puncak kegairahan menu operasional TNI AU dan sekaligus mempertajam taring tentara langit Indonesia,” ujarnya.

Kepemilikan jet tempur superioritas udara Sukhoi SU35, sambung Jagarin, bukan untuk gagah-gagahan tetapi sebuah kepantasan untuk menjadi payung pertahanan teritori udara. Apalagi kiri kanan muka belakang negeri ini alutsistanya juga pada seram semua.

“Esensi penguatan militer seperti mendatangkan sejumlah jet tempur galak Sukhoi SU35 adalah untuk memastikan kekuatan kepercayaan diri dalam menjaga kewibawaan teritori NKRI. Negara yang memiliki militer dan persenjataan yang kuat tentu menjadi kekuatan bargaining dalam pola diplomasi antar negara,” jelas Jagarin.

sumber: nusantaranews