,

Ini nih yang harus dilakukan militer Arab Saudi agar tak dikalahkan Iran

via : merdeka.com

Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud memecat kepala staf angkatan bersenjata Jenderal Abdul Rahman bin Saleh al-Bunyan dan sejumlah komandan tertinggi negara tersebut. Untuk penggantinya ditunjuk Letnan Jenderal Fayyad al-Ruwaili.

Belum ada pernyataan resmi dari Istana terkait pergantian posisi puncak militer Arab Saudi.

Penggantian posisi puncak militer ini jadi sorotan karena dilakukan di tengah perang proxy antara Arab Saudi dan Iran di Yaman. Arab Saudi menggempur milisi Houthi yang didukung oleh Iran sejak tahun 2015 lalu. Tak main-main, gerilyawan syiah itu berhasil merebut ibu kota Sanaa.

Berbicara soal militer Arab Saudi, negara mana tak iri dengan anggaran belanja pertahanan mereka. Tahun 2016, Arab Saudi tercatat mengeluarkan dana hingga USD 63 miliar untuk membeli aneka persenjataan. Dia negara terbesar keempat setelah AS, China dan Rusia. Di tahun sebelumnya malah Arab Saudi ada di posisi tiga besar.

Stockholm International Peace Research Institute mencatat sejak tahun 2012, Arab Saudi meningkatkan jumlah pembelian senjata hingga 200 persen. Amerika Serikat adalah pengirim senjata terbanyak, disusul Inggris dan Spanyol.

Jelas senjata yang dibeli bukan sekelas paket hemat atau alutsista lungsuran. Mereka memesan Eurofighter Typhoons, jet tempur andalan banyak negara Eropa. Dari AS, Arab Saudi memborong F-15 seri khusus, F-15 SAA atau Saudi Arabia Advanced.

Angkatan Darat Arab Saudi juga bisa dikatakan memiliki semua jenis kendaraan tempur paling modern seperti Tank M1A2 Abrams dan Ranpur M2 Bradley. Helikopter tempur AH-64D Apache Longbow and UH-60 Black Hawk selalu siap memberi perlindungan pasukan darat. Sama persis dengan sekutu Amerika Serikat mereka.

Kekuatan laut Kerajaan Arab Saudi juga makin bergigi dengan kapal frigat Al Riyadh. Ini merupakan modifikasi khusus dari kapal frigat sekelas La Fayette buatan Prancis.

Diperkirakan saat ini Kerajaan Arab Saudi memiliki 688.000 personel aktif yang bertugas di semua matra.

Namun besar tak selalu ideal. Mereka terlalu serius membangun angkatan perang mereka untuk perang konvensional dalam skala besar. Bukan untuk perang proxy dan terbatas seperti yang terjadi di Suriah dan Yaman sekarang.

Pengamat Militer dari The Washington Institute Michael Knight menyebut kekuatan besar ini jadi tak efektif. Dalam pertempuran di Yaman, harus diakui jika operasi militer Arab Saudi tak menunjukkan perkembangan berarti selama tiga tahun terakhir.

“Tak ada jenderal Iran yang takut pada Arab Saudi,” kata Michael Knight.

Dengan pengeluaran militer yang jauh melampaui lawan-lawannya, seharusnya militer Arab Saudi lebih bisa menunjukkan dominasinya di medan tempur. Tapi ini tidak terjadi.

Knight menilai jika ingin memenangkan konflik melawan milisi Houthi, tak cukup dengan pengerahan kekuatan udara. Saat ini operasi militer yang dilakukan Arab hanya melakukan pengeboman lewat udara dan bombardir artileri dari perbatasan.

“Serangan udara tak akan memberikan hasil signifikan. Target utama sering kali tak terjangkau oleh pesawat tempur. Kebanyakan mereka juga menyamar sebagai warga sipil,” kritik Knight.

Arab Saudi perlu mengerahkan 20.000 hingga 30.000 pasukan darat ke Yaman untuk menghabisi militan Syiah Houthi. Namun Knight menduga petinggi militer Arab Saudi juga tahu kelemahan mereka.

Pasukan Arab Saudi tak punya pengalaman menghadapi pertempuran semacam itu sendiri. Mereka tak punya pengalaman mengatur jalur logistik jauh hingga ke daerah pertahanan lawan. Saat ini memang ada beberapa unit pasukan khusus Arab yang bertempur di Yaman. Namun jumlah itu sangat kecil dan bukan merupakan operasi terbuka.

Jika dulu pernah mengikuti Operasi Desert Storm, harus diakui Arab Saudi hanya berperan sebagai ‘tim pendukung’. Kekuatan utama operasi itu bertumpu pada Amerika Serikat. Mereka sadar betul itu.

“Arab Saudi perlu merampingkan tentara mereka. Fokus pada rekrutmen prajurit yang berkualitas. Mereka perlu membentuk unit-unit yang mampu bertempur bersama milisi lokal,” kata pria yang fokus pada isu militer Timur Tengah ini.

Knight menyebut dominasi Iran di setiap konflik Timur Tengah menunjukkan jika negara itu lebih mampu menghadapi perang proxy. Iran diduga melatih dan mempersenjatai kelompok Hizbullah di Lebanon, Hamas di Palestina dan sejumlah militan di wilayah Irak dan Suriah. Iran terbukti lebih mampu mengoptimalkan apa yang jadi kelebihan mereka.

“Para milisi itu dilatih dan dipersenjatai lebih baik daripada tentara reguler,” kata Knight.

Saatnya Arab Saudi mereformasi tentaranya. Musuh yang mereka hadapi bertempur lebih fleksibel dalam jumlah yang lebih kecil. Berbeda dengan doktrin perang semasa Perang Dingin dulu. Zaman memang sudah berubah.

Sumber: Merdeka