,


Rusia dan China Disebut Kembangkan Teknologi Senjata Nuklir Tak Terkalahkan

Sekitar 400 anti rudal balistik disebut tengah mengepung Rusia. Anti rudal itu muncul di ambang pintu negara Rusia sebagai bagian dari menumpuknya militer Amerika Serikat (AS). Foto : SINDOnews

Militer.me – Jenderal John Hyten, Komandan Komando Strategis Angkatan Udara AS menyatakan dalam sebuah pidato bahwa Rusia dan China secara agresif mengembangkan senjata nuklir hipersonik berupa rudal yang dapat melesat dengan kecepatan sangat tinggi pada selasa lalu dikutip Dailymail (21/03). Pernyataan ini dijadikan landasan saran Jenderal Hyten agar AS menambah persenjataan nuklirnya untuk menyeimbangi kedua negara tersebut.

Menurut Hyten saat ini militer AS tidak memiliki senjata nuklir sejenis yang dimiliki Rusia dan China untuk memperkuat pertahanan militer dalam rangka melawan misil hipersonik itu. “Kami tidak memiliki pertahanan yang dapat menangkis serangan senjata semacam itu,” paparnya dalam Komite Senat Angkatan Bersenjata. Hyten mengatakan AS harus meningkatkan daya gentar-nya di bidang peperangan hipersonik.

Baik Rusia dan China mengejar kapabilitas hipersonik secara agresif. Kita sudah melihat mereka menguji kapabilitas itu. Saya sangat setuju kita membutuhkan senjata nuklir serupa, kapabilitas adalah senjata penggentar untuk merespon ancaman dari Rusia. Presiden Putin mengumumkan sejak April 2000 dulu bahwa doktrin Rusia adalah penggunaan senjata nuklir di medan perang,” papar Hyten menambahkan.

Hyten juga menjelaskan jika rudal hipersonik itu benar-benar dapat melesat lebih cepat dibanding kecepatan suara.

Sebelumnya Putin memamerkan arsenal senjata nuklir Rusia yang salah satunya misil hipersonik dan drone bawah laut bertenaga nuklir. Pentagon membuat pernyataan bahwa tindakan Presiden Putin tidak mengejutkan dan justru akan meyakinkan rakyat AS pentingnya pengembangan senjata nuklir yang sejenis. Selasa lalu Donald Trump juga memberikan pernyataan bahwa dirinya akan menemui Putin dalam waktu dekat untuk mendiskusikan perlombaan senjata internasional.

Dalam komite senat itu, Hyten juga menjelaskan jika sasaran pembangunan postur pertahanan operasi cyberspace AS tidak tercapai. “Kita harus mampu menguasai domain operasional cyberspace, cyberspace perlu diperhatikan dalam kerangka domain tempur dan jika seseorang mengancam kita di ranah siber kita harus memiliki daya respon,” ungkapnya menambahkan.

Hyten menggarisbawahi pentingnya bagi AS untuk segera meningkatkan kemampuan menangkis serangan siber dari Timur Tengah seperti dari ISIS. Pekan lalu Jenderal Curtis Scaparrotti, Komandan tertinggi NATO di Eropa juga memperingatkan bahwa Pemerintah AS tidak mengkoordinir upaya untuk melawan ancaman siber dari Rusia. Laksamana Michael Rogers, komandan NSA dan Komando Siber AS juga mengatakan bahwa Trump belum memerintahkan kepala mata-mata di bawah pimpinannya untuk membalas Rusia atas kekacauan Pemilu AS yang disebabkan mereka.

“Kami membutuhkan peraturan spesifik yang mengikat pada domain operasi tempur ini. Kita perlu mendelegasikan otoritas yang diperlukan agar kita mampu menghadapi ancaman nyata yang dihadapi oleh AS,” papar Hyten di akhir pidato.

Sumber akurat.co