,

China Latihan Militer, Kapal Induk Nuklir AS dengan 20 F-18 malah Manuver di Laut China Selatan

Pesawat-pesawat jet tempur F-18 manuver di atas kapal induk bertenaga nuklir Amerika Serikat, USS Theodore Roosevelt, di Laut China Selatan. Foto/REUTERS

Militer.me – Kapal induk bertenaga nuklir Amerika Serikat (AS), USS Theodore Roosevelt, dengan 20 jet tempur F-18 bermanuver di kawasan Laut China Selatan. Aksi militer Washington itu menyusul latihan perang besar-besaran China di perairan serupa.

Ke-20 jet tempur F-18 dalam waktu 20 menit melakukan manuver peluncuran dan pendaratan di atas dek kapal USS Theodore Roosevelt. Aksi ini terjadi hari Selasa.

Militer Amerika mengklaim pelayaran kapal induknya di Laut China Selatan yang disengketakan banyak negara itu merupakan patroli rutin. Uss Theodore Roosevelt berlabuh di Filipina sesuai perjanjian pertahanan sekutu.

Amerika Serikat tidak sendirian dalam melakukan patroli angkatan laut di perairan strategis tersebut. China, Jepang dan beberapa angkatan laut Asia Tenggara juga beroperasi. Kondisi ini telah memicu ketegangan dan meningkatkan risiko kecelakaan di laut.

“Kami telah melihat kapal-kapal China di sekitar kami,” kata Laksamana Muda Steve Koehler, komandan kelompok tempur kapal induk USS Theodore Roosevelt, kepada sekelompok kecil wartawan di atas kapal yang berusia tiga dasawarsa itu.

“Mereka adalah salah satu angkatan laut yang beroperasi di Laut China Selatan, tetapi saya akan memberitahu Anda bahwa kami tidak melihat apa pun kecuali kerja profesional dari kapal-kapal yang kami temui,” ujar Koehler, seperti dikutip Reuters, Rabu (11/4/2018).

Beberapa angkatan laut di Pasifik barat, termasuk China dan sembilan negara Asia Tenggara, telah bekerja pada code of unexpected encounters (CUES) di laut untuk menghindari konflik.

Kehadiran USS Theodore Roosevelt di Laut China Selatan terjadi beberapa hari setelah China menggelar latihan perang besar-besaran di kawasan tersebut yang berpusat di Hainan.

Kehadiran militer China yang meningkat di perairan internasional ini telah memicu kekhawatiran di pihak Barat. Amerika Serikat telah mengkritik militerisasi China di Laut China Selatan karena bisa menghilangkan kebebasan bernavigasi internasional.

“Transit di Laut China Selatan ini bukan hal baru dalam siklus perencanaan kami atau sebagai reaksi terhadap itu. Mungkin dengan kebetulan bahwa semua itu terjadi pada saat yang sama,” kata Koehler.

Sementara itu, militer Filipina yang menyambut kehadiran kapal induk AS menganggap militer Washington sebagai teman pelindung.

“Ini adalah pameran kemampuan pasukan bersenjata AS,” kata kepala militer Filipina Rolando Bautista tentang demonstrasi jet-jet tempur F-18 di kapal induk Washington.

“Karena orang Amerika adalah teman kami dalam satu atau lain cara, mereka dapat membantu kami mencegah ancaman apa pun,” ujarnya.

sumber: Sindonews