in

Rusia Jadi Negara Paling Sulit Ditaklukkan di Dunia. Gara Gara satu Hal ini

Sejumlah rudal dan personel militer Rusia saat parade militer tahun lalu. Foto/Sputnik/Maksim Blinov

Militer.me – Sejumlah negara di dunia dianggap amat sulit untuk ditaklukkan secara militer, salah satunya Rusia.

Harian terbitan Swedia, Svenska Dagbladet menyebut menyerbu Rusia akan menjadi mimpi buruk bagi militer negara mana pun karena kondisi geografis dan luas wilayahnya.

Berdasarkan kriteria itu, harian Swedia itu mengatakan negara mana saja yang berniat menyerbut Rusia harus mempersiapkan diri menghadapi kondisi geografis yang beragam selain militernya yang kuat.

“Negara penyerbu akan menghadapi pegunungan yang terpencil, rawa-rawa yang tak bisa ditembus, tundra membeku, sungai berarus deras, dan hutan-hutan lebat khas Rusia,” papar artikel tersebut.

Selain itu, kondisi cuaca yang ekstrem di musim panas dan dingin, menjadi tantangan tambahan bagi militer penyerbu.

Jika pasukan penyerbu bisa mengatasi kondisi alam, maka lawan yang dihadapi selanjutnya adalah rakyat Rusia sendiri.

“Mereka sudah ribuan tahun tertempa dalam perang besar dan gerilya. Mereka sudah amat berpengalaman,” lanjut artikel tersebut.

Artikel yang ditulis Svenska Dagbladet itu telah dibuktikan sejarah. Sejak terbentuk pada abad ke-15, Rusia belum pernah sekali pun takluk di tangan negara asing.

Rusia pernah mengalahkan kekuatan-kekuatan besar dunia yang menyerbu negeri itu antara lain pasukan Perancis pimpinan Napoleon pada 1812.

Rusia juga mematahkan invasi Nazi Jerman pada 1941-1945. Baik Perancis maupun Jerman merupakan kekuatan adi daya di masanya masing-masing.

Selain Rusia, harian Swedia itu juga menyebut Swiss dan Selandia Baru menjadi dua negara lain yang sulit ditaklukkan secara militer.

Meski hanya memiliki kekuatan militer kecil yaitu 150.000 personel, Swiss menjadi negara yang sulit dikalahkan karena memiliki benteng alami yaitu Pegunungan Alpen.

Swiss juga memiliki sistem pertahanan yang amat baik, selain infrastruktur seperti jembatan dan jalan raya yang bisa dihancurkan untuk menghambat gerak maju musuh.

Sementara untuk menaklukkan Selandian Baru memiliki masalah dalam hal logistik. Sebab, Selandia Baru terletak 2.000 kilometer dari daratan terdekat yaitu Australia.

Sehingga, kecepatan dan kelancaran pasokan persenjataan dan perbekalan lain untuk pasukan penyerbu “nyaris mustahil” dilakukan.

Tertekan Kebijakan Eropa

Sebuah lembaga think-tank di Stockholm, Swedia, merilis laporan Rusia telah memangkas anggaran militernya di 2017.

Radio Free Europe melaporkan Rabu (2/5/2018), Institut Penelitian Perdamaian Internasional (SIPRI) menyebut pengeluaran militer Rusia dipotong 20 persen.

Dalam peringkat negara dengan pengeluaran militer terbesar, Rusia turun ke posisi empat dengan bujet 66,3 miliar dolar Amerika Serikat (AS), atau Rp 924,5 triliun.

Posisi Rusia disalip oleh Arab Saudi yang menghabiskan 69,4 miliar dolar AS, atau sekitar Rp 967,7 triliun, pada 2017.

Pemotongan itu menjadi yang pertama kali dilakukan Rusia sejak Negeri “Beruang Merah” tersebut dihantam krisis pada 1998.

Siemon Wezeman, Peneliti Senior SIPRI menjelaskan, anggaran pertahanan Rusia mengalami penurunan karena masalah ekonomi yang dirasakan negara itu sejak 2014.

“Sanksi yang diberikan negara Barat dan resesi berkepanjangan membuat Rusia terpaksa memangkas anggaran militernya hingga 20 persen,” ucap Wezeman.

Sebelum 2017, Kremlin berusaha untuk tetap mempertahankan nominal belanja militernya. Mereka kemudian memangkas sektor lain seperti pendidikan dan infrastruktur.

Namun di 2017, Wezeman berkata kalau Rusia tidak mempunyai jalan lain selain memangkas anggaran militernya.

“Tidak dimungkinkan lagi untuk sekadar mempertahankan jumlah anggaran yang sama. Bagi Rusia, mereka menelan harga diri sendiri,” beber Wezeman.

Mengacu pada pertumbuhan ekonomi yang 1,5 persen di 2017, Wezeman memprediksi anggaran militer Rusia bakal flat, atau bahkan lebih turun, saat 2020 mendatang.

Wezeman berujar, pos di anggaran militer yang paling cepat dipangkas adalah pembelian sistem persenjataan dan operasi militer.

Kepada Reuters, Wezeman menuturkan meski ekonomi sedang menurun, Rusia berusaha menunjukkan diri sebagai salah satu kekuatan militer utama dunia.

Antara lain terjun dalam konflik sipil di Suriah pada 2015. “Rusia masih berusaha menunjukkan bahwa mereka adalah negara kuat,” papar Wezeman.

Lebih lanjut, dari laporan SIPRI, AS masih menjadi negara dengan belanja militer terbesar di dunia.

Tahun lalu, negara pimpinan Presiden Donald Trump itu menghabiskan 610 miliar dolar AS, sekitar Rp 8.507 triliun, atau 35 persen dari belanja militer dunia.

Suber: TribunManado

Beli Pulsa dan Paket Data di Bukalapak dapat Cashback hingga Rp100.000 Gunakan kode voucher PULSAJALAN

Loading...