,

AS Ancam India & Turki Agar Tak Beli Sistem Pertahanan S-400 Rusia, Amerika Serikat Mulai Khawatir?

Ilustrasi/SINDOnews

Amerika Serikat ( AS) meminta agar India mengkaji kembali rencana pembelian sistem pertahanan anti-serangan udara S-400 dari Rusia.

Sebab, rencana pembelian itu berpotensi merusak kerja sama di bidang pertahanan maupun berbagi teknologi yang telah dilakukan kedua negara.

Ketua Komite Angkatan Bersenjata AS, Mac Thornberry, berkata Kongres maupun pemerintahan Presiden Donald Trump saat ini khawatir dengan langkah yang diambil New Delhi tersebut.

Dilansir dari Russian Today Rabu (30/5/2018), India diyakini bakal mengumumkan rencana pembelian sistem S-400 tersebut pada Oktober mendatang.

“Kami memperhatikan dengan serius bahwa negara manapun yang membeli sistem persenjataan lain bakal dibatas kerjasamanya oleh militer AS,” ujar Thornberry.

Dia meminta agar India mempertimbangkan ulang.

Sebab, di saat bersamaan, AS juga bersiap menjual drone militer Predator ke India.

Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh anggota kongres asal Texas, Henry Cuellar, dalam wawancaranya dengan Economic Times.

Cuellar menjelaskan, India berpotensi untuk menerima sanksi dari AS jika bertransaksi dengan sektor pertahanan Rusia sesuai Peraturan untuk Menentang Lawan AS (CAATSA).

Selama ini, India ingin adanya pertukaran pengetahuan tentang produksi maupun penjualan jet tempur F-16 bisa tetap berjalan.

“Namun, di sisi lain dengan adanya S-400 itu, maka kami khawatir jika nantinya arah kerja sama bakal sedikit berbeda,” beber Cuellar.

Russian Today melansir, kabar rencana pembelian sistem rudal anti-serangan udara itu mencul setelah Trump berencana untuk mengurangi penjualan senjata ke negara lain.

Selain India, negara lain yang menerima tekanan AS karena membeli sistem anti-serangan udara S-400 Rusia adalah Turki.

Washington bahkan mengancam bakal membatalkan pengiriman jet tempur F-35 jika Ankara masih ngotot melakukan transaksi.

Disamping itu, Arab Saudi, sekutu Amerika Serikat (AS) di Dunia Arab, bahkan sudah menandatangani sebuah kesepakatan awal untuk membeli sistem pertahanan udara atau rudal S-400, dan bakal menerima bantuan “teknologi paling mutakhir” dari Rusia tersebut.

Keterangan itu disampaikan perusahaan industri militer Arab Saudi terkait dengan kunjungan Raja Salman ke Moskwa, ibu kota Rusia, seperti dilaporkan AFP, Jumat (6/10/2017).

Kesepakatan kerja sama itu diumumkan saat Raja Salman bin Abdulaziz dan Presiden Rusia Vladimir Putin mengadakan pembicaraan di Kremlin, Kamis (5/10/2017).

Salman melakukan kunjungan resmi pertama sebagai seorang raja Arab Saudi ke Rusia.

Berdasarkan kesepakatan tersebut, Arab Saudi siap untuk membeli sistem pertahanan udara S-400, sistem peluru kendali dan beberapa peluncur roket.

“Kesepakatan ini diharapkan dapat memainkan peran penting dalam pertumbuhan dan pengembangan militer serta industri militer di Arab Saudi,” kata Saudi Arabian Military Industries (SAMI), perusahaan industri militer negara kerajaan tersebut.

“Nota kesepahaman (MoU) mencakup transfer teknologi untuk produksi lokal,” dari sistem peluru kendali anti-tank Kornet, beberapa peluncur roket canggih, dan peluncur granat otomatis.

“Selain itu, para pihak akan bekerja sama dalam menetapkan rencana melokalkan perakitan dan perawatan bagian-bagian dari sistem pertahanan udara S-400,” kata SAMI

Kedua negara juga menyepakati produksi senapan otomatis Kalashnikov dan amunisinya di Arab Saudi, serta program pendidikan dan pelatihan untuk warga lokal.

“Kesepakatan ini diharapkan memiliki kontribusi ekonomi yang nyata dan menciptakan ratusan lapangan kerja secara langsung,” kata perusahaan itu.

Mereka juga akan mengalihkan teknologi terdepan yang akan berperan sebagai katalisator untuk mengurangi 50 persen pengeluaran militer kerajaan.

Rosoboronexport, eksportir senjata milik Rusia, tidak segera memberikan komentar mengenai kesepakatan tersebut.

Pada Rabu (14/5/2014), ketika masih sebagai putra mahkota Arab Saudi, Salman, menyerukan kerja sama militer antara Amerika Serikat dan negara-negara Teluk akan lebih kuat, yang menurut dia tengah terancam keamanannya.

Pernyataan Pangeran Salman ini dibuat dalam pertemuan antara Menteri Pertahanan AS Chuck Hagel dan para menteri pertahanan Dewan Kerjasama Teluk (GCC) di Jeddah, Arab Saudi.

Sumber: Surya