,

Balas Kritik Trump, Jerman Anggarkan Belanja Militer Rp 67 T

Sejumlah tank Leopard milik Angkatan Darat Jerman menyeberangi sungai Neris saat mengikuti latihan Iron Wolf 2017 di Stasenai, Lituania, 20 Juni 2017. REUTERS/Ints Kalnins

Militer – Rancangan anggaran federal Jerman menunjukkan peningkatan miliaran dolar AS dalam pembelanjaan pertahanan untuk 2019. Selama beberapa tahun terakhir, militer Jerman telah berjuang untuk mengatasi kekurangan di persenjataan mereka serta tekanan dari sekutu NATO-nya, yang mengkritik Jerman karena melanggar janji pada untuk memenuhi target anggaran militer.

Anggaran federal Jerman 2019 yang diusulkan, seperti dilaporkan Sputniknews, 3 Juli 2018, yang akan diajukan oleh Menteri Keuangan Olaf Scholz dari partai Sosial Demokrat (SPD), dilaporkan sebesar US$ 51,2 miliar atau Rp 736 triliun yang sebagian dikucurkan untuk militer.

Surat kabar bisnis Jerman, Handelsblat, dan Badan Pers Jerman (DPA) melaporkan dana sebesar US$ 4,7 miliar atau Rp 67,5 triliun, namun dana ini bukan hanya sekadar belanja untuk keperluan militer Jerman pada 2018, tetapi juga melebihi dari rencana anggaran yang diusulkan sebelumnya untuk 2019, yakni sebesar US$ 785 juta atau Rp 11,2 triliun.

Terlepas dari deretan migrasi yang lebih ketat dan kontrol perbatasan antara Kanselir Angela Merkel dan Menteri Dalam Negeri Horst Seehofer, yang mempengaruhi koalisi Jerman yang berkuasa antara partai CDU dan CSU, Scholz ingin mengadakan sesi khusus pemerintah mengenai anggaran 2019 sebelum liburan musim panas. Parlemen Jerman akan merevisi dan mengesahkan draf sebelum musim gugur.

Menurut surat kabar Jerman, Frankfurter Allgemeine Zeitung, karena perkiraan pajak terbaru memprediksi pendapatan pemerintah jauh lebih tinggi dari yang diperkirakan, Scholz menjanjikan lebih banyak uang kepada militer, yang harus tunduk pada tekanan dari Menteri Pertahanan Jerman Ursula von der Leyen, anggota dari Persatuan Demokrat Kristen Angela Merkel.

Masalah pembelanjaan pertahanan ini telah menjadi salah satu sumber utama perselisihan antara SPD dan CDU/CSU Merkel, yang membentuk pemerintahan koalisi besar di Jerman. Proposal anggaran militer yang sebelumnya sangat rendah ditentang oleh von der Leyen. Dia mengkritik besaran dana karena tidak mencukupi untuk pembiayaan angkatan bersenjata Jerman, Bundeswehr.

Sementara Jerman sendiri dijadwalkan mengambil alih komando pasukan penanggulangan krisis NATO pada 2019, namun militernya menghadapi kekurangan pasokan militer. Daftar kekurangan juga termasuk keterbatasan pesawat tempur untuk beroperasi pada malam hari, pilot dalam Luftwaffe dan hanya empat dari 128 Eurofighter Typhoon yang siap terbang misi tempur.

“Kurang dari setengah dari 224 tank Leopard 2 siap untuk dioperasikan dan hanya lima dari 13 frigate Angkatan Laut yang layak berlayar,” menurut Kementerian Pertahanan Jerman dalam Laporan Kesiapan Operasional Sistem Weapon Primer Bundeswehr 2017.

Berlin juga mendapat tekanan dari Presiden AS Donald Trump, serta beberapa anggota NATO lainnya yang mengkritik Jerman mengucurkan anggaran kurang dari 2 persen dari kebutuhan PDB, yang disepakati anggota NATO pada 2014. Donald Trump berulang kali mengkritik negara-negara NATO lain karena tidak memenuhi komitmen mereka pada pembelanjaan pertahanan.

Dilansir Xinhua, diperkirakan bahwa delapan sekutu NATO akan mencapai patokan dua persen pada akhir tahun ini, dan 15 anggotanya sedang berupaya untuk menganggarkan dua persen dari PDB-nya pada 2024.

Menteri Pertahanan Jerman memperkirakan pada Mei bahwa anggaran militer Jerman hanya akan tumbuh secara bertahap sebesar 1,24 persen dari PDB menjadi 1,3 persen pada 2019 dan 1,5 persen pada 2025. Sementara Perancis mendekati target dua persen, dengan 1,8 persen pada 2017, dan Spanyol pada 0,92 persen tahun lalu.

Sumber: Tempo