,

Wah! Militer AS Punya Tentara Super Rahasia, Begini Penampakannya

Photo : REUTERS.com

Militer.me – Pada era 1950-an, Angkatan Laut Amerika Serikat mengira lumba-lumba akan menjadi template yang baik untuk desain torpedo. Tetapi, mereka akhirnya menggunakan hewan mamalia laut tersebut untuk tujuan yang sangat berbeda.

Mulanya, AL AS bermaksud untuk mempelajari tubuh lumba-lumba dan gaya berenangnya untuk mengembangkan torpedo yang lebih cepat dan hanya memiliki sedikit hambatan.

Lalu, pada 1964, para petinggi militer AS berkumpul di sebuah kapal perang di lepas pantai San Diego, California, untuk menyaksikan lumba-lumba yang disinyalir cocok untuk bergabung dengan operasi sangat rahasia.

Salah satu personel AL AS, Sam Ridgway, memiliki tugas merawat seekor lumba-lumba bernama Tuffy dalam program penelitian cetacean (nama Latin dari lumba-lumba) milik angkatan laut.

Saat menit dan detik sudah berlalu, Ridgway mulai gugup karena Tuffy tidak juga terlihat. Semula, ia sangat yakin jika Tuffy mampu mengirim paket ke lokasi yang tepat di dasar laut.

Namun, hewan mamalia itu malah berenang bebas di laut lepas, mungkin makhluk tersebut sudah memutuskan untuk kembali ke habitat asalnya.

Sebelumnya, banyak yang mengatakan jika lumba-lumba tidak akan pernah bisa dipercaya untuk melakukan misi luar biasa dan berbahaya yang sedang dipersiapkan.

Lantas, di kejauhan Ridgway melihat sirip kelabu Tuffy muncul ke permukaan. Ada sekitar 80 lumba-lumba hidung botol yang melakukan perjalanan tugas ke zona perang di seluruh dunia, untuk membantu operasi militer AS.

Seorang teknisi di Angkatan Laut AS sedang bekerja dengan lumba-lumba botol yang dilatih untuk menemukan mineral bawah laut.

Berkat Ridgway, manusia mulai mempelajari lumba-lumba di dalam biologi, salah satunya, mengubah fokus dan melatih hewan tersebut untuk mendeteksi ranjau.

“Segera setelah tahu mereka memiliki sonar biologis yang sangat baik. Lumba-lumba memiliki kemampuan yang tak tertandingi oleh apapun buatan manusia,” kata Juru Bicara SPAWAR Systems Center Pacific, Ed Budzyna, dikutip dari Business Insider, Sabtu 14 Juli 2018.

SPAWAR merupakan program Komando Angkatan Laut Mamalia untuk Ruang Angkasa dan Sistem Perang Laut AS yang bermarkas di San Diego, California, AS. Pada 2015, SPAWAR memiliki 50 singa laut dan 85 lumba-lumba.

Menurut Ed, menggunakan melon yang ada di dahi mereka, lumba-lumba dapat mendengarkan bagaimana suara yang dipancarkan dapat memantul kembali. Memungkinkan mereka untuk menganalisis lingkungan mereka secara instan.

Ia menuturkan, lumba-lumba tidak hanya tahu bahwa mereka sedang berenang menuju sepotong logam, bahkan mereka tahu jenis logam apa yang mereka gunakan membuat mereka sangat berbakat menemukan ranjau di bawah laut.

Ketika lumba-lumba menemukan sebuah ranjau, mereka dengan cepat kembali ke pawang mereka, yang memberi lumba-lumba sebuah bendera yang dilekatkan pada tali untuk diletakkan di samping tambang.

Jika hewan tersebut sedang tugas jaga maka mereka akan mendekati musuh dari belakang dan menjepit perangkat tangki udara mereka.

“Perangkat ini terhubung ke pelampung apung yang bisa meledak di atas air, memberi tahu mereka mengenai tempat dan lokasi penyusup,” jelas Ed.

Tak hanya AS, Rusia, Iran, dan Israel, juga memiliki ‘tentara’ lumba-lumba. Akan tetapi, hanya Angkatan Laut AS saja yang terbuka mengenai pelatihan lumba-lumba sebagai militer.

Sumber: viva