,

Di hadapan ratusan calon perwira remaja TNI-Polri, Kapolri Sebut Khilafah Ancaman yang Memecah Indonesia

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyebut paham radikal seperti khilafah dapat memecah belah Indonesia. (CNN Indonesia/Christie Stefanie)

Militer – Kapolri Jendral Tito Karnavian menyebut Indonesia berpotensi terpecah seperti negara Uni Soviet. Dia menyinggung paham khilafah sebagai ancaman negara.

Tito mengatakan dampak globalisasi telah membawa paham-paham baru di Indonesia seperti takfiri, jihadi, terorisme dan khilafah. Paham tersebut tengah menginfiltrasi kehidupan masyarakat sejak keran demokratisasi dibuka pada era reformasi.

“Kalau paham-paham ini muncul maka muncullah ide yang sudah lama yaitu mendirikan negara tertentu berdasarkan prinsip keagamaan,” kata Tito di depan ratusan calon perwira remaja TNI-Polri di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (18/7).

Tito menambahkan ide mendirikan negara berdasarkan asas keagamaan bakal mengalami resistensi oleh kelompok masyarakat yang tak sepakat dengan ide tersebut. Sebab, meskipun Indonesia adalah negara dengan mayoritas penduduk muslim, tapi sejumlah daerah berpenduduk nonmuslim seperti Bali, NTT, Sulawesi Utara. “Semua akan bereaksi,” ujarnya.

Tito mengatakan saat ini Indonesia sedang mengalami masifnya penetrasi berbagai pemikiran dan ideologi radikal akibat gelombang demokratisasi dan globalisasi. Semua itu dianggap mengancam nilai-nilai Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945.

“Jika tak diantisipasi bisa jadi seperti beberapa negara lain berjatuhan, pecah berantakan, negara [Uni] Soviet yang kuat militernya, ekonominya, sekarag sudah enggak ada lagi tinggal sejarah, pecah jadi Rusia dan negara kecil lainnya,” ujar Tito.

Kondisi itu juga didukung kemajuan teknologi informasi yang memberikan dampak negatif terhadap cepatnya penyebaran pemikiran ideologi radikal ke tengah masyarakat.

Terlebih lagi, perkembangan teknologi kerap dimanfaatkan oleh pihak tak bertanggungjawab untuk menyebarkan kabar bohong dan kebencian yang dapat memicu konflik horizontal di masyarakat.

“Perkembangan IT saling menyerang satu sama lain, kampanye negatif, hal buruk dari orang lain diangkat, ada positif negatifnya, ada juga black campaign, yang tak terjadi tapi dibuat seakan terjadi, ini bisa jadi pemecah kita,” ungkapnya.

Tito mengatakan untuk menangani hal itu, TNI dan Polri harus bersinergi demi menjaga nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945 serta keutuhan NKRI.

Tak hanya itu, ia mengatakan baik TNI maupun Polri memiliki tugas bersama untuk melakukan transformasi pertahanan dalam negeri mengingat ancaman tak lagi datang dari militer melainkan nonmiliter.

“Ancaman bukan hanya menyerang sistem pertahanan militer lagi, tidak, apalagi dengan adanya sistem cyber space, ini mengancam sistem pertahanan negara kita juga,” ujarnya.

Sumber: CNN Indonesia