,

Suriah: S-300 Rusia Buat Israel Pikir Dua Kali untuk Menyerang Lagi

Sistem rudal pertahanan udara S-300 Rusia. Foto/REUTERS

Militer – Transfer sistem rudal pertahanan S-300 yang sedang disiapkan Rusia kepada Suriah akan membuat Israel berpikir dua kali sebelum menyerang wilayah Suriah. Komentar ini disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri Suriah Faisal Mekdad.

Menurutnya, Damaskus hanya akan menggunakan sistem rudal canggih itu jika terjadi serangan di wilayahnya.

“Israel, yang telah terbiasa melakukan serangan dengan berbagai dalih, sekarang harus menimbang dan memikirkan kembali sebelum menyerang lagi,” kata Mekdad kepada kantor berita Xinhua.

“Agresi terhadap Suriah diarahkan pada kekuatan yang memerangi terorisme di Suriah. Jika Israel akan mencoba menyerang, kami akan membela rakyat kami seperti yang kami lakukan di masa lalu,” ujar Mekdad, yang dilansir Rabu (26/9/2018) malam.

Pada Senin lalu, Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu mengumumkan bahwa negaranya akan mentransfer sistem rudal surface-to-air S-300 ke rezim Assad dalam waktu dua minggu. Sistem itu akan dipasok setelah pesawat mata-mata Il-20 Rusia ditembak jatuh sistem rudal S-200 Suriah yang sedang merespons serangan empat jet tempur F-16 Israel di Latakia.

Dia kembali menegaskan bahwa tanggung jawab atas jatuhnya pesawat Rusia yang menewaskan 15 tentara Moskow berada di pihak Israel. Moskow, berdasarkan data rekaman sistem pertahanan S-400 yang disiagakan di Pangkalan Khmeimim, menyatakan bahwa jet tempur F-16 Israel bersembunyi di balik pesawat Il-20 yang lebih besar saat diserang sistem rudal S-200 Damaskus.

Sementara itu, sumber di lembaga pertahanan Israel mengatakan bahwa ada orang-orang yang percaya bahwa Presiden Suriah Bashar Assad sejatinya tidak membutuhkan sistem senjata, tetapi tetap merayakan fakta bahwa dia meraihnya dari Rusia.

Menurut perkiraan, tingginya biaya pelatihan tenaga kerja lokal untuk mengoperasikan sistem dan pemeliharaannya yang berkelanjutan membuatnya tidak diinginkan oleh Assad. Selain itu, jika sistem itu rusak atau hancur, rezim Suriah akan kesulitan untuk memenuhi biaya yang harus ditanggung sendiri, bukan oleh pihak Moskow.

Sumber: SINDONEWS