,

S-400 Rusia, Diganggu AS tapi Diminati Sekutu AS

Rusia mengerahkan batalyon ketiga sistem pertahanan udara S-400 ke Crimea. Foto/Istimewa

Militer – Sistem pertahanan S-400 Triumf Rusia kembali jadi sorotan media internasional setelah Amerika Serikat (AS) gagal mencegah India untuk membeli senjata tersebut.

Sistem rudal surface-to-air (permukaan ke udara) termutakhir Moskow ini terus diganggu penjualannya oleh Washington dengan mengumbar ancaman sanksi bagi setiap negara yang membelinya. Uniknya, beberapa negara, termasuk sekutu-sekutu Washington justru meminatinya.

ndia yang dianggap sebagai negara mitra AS resmi membeli lima unit senjata pertahanan anti-pesawat tersebut dengan nilai kesepakatan USD5 miliar. Meski sudah mengancam akan menjatuhkan sanksi melalui undang-undangnya, Countering America’s Adversaries Through Sanctions Act (CAATSA), Washington, tak berani terang-terangan membuktikan ancamannya kepada New Delhi.

NATO menamai S-400 Rusia sebagai SA-21 Growler. Senjata yang dapat melesatkan hingga 72 rudal dalam sekali tembak dan melibatkan 36 target sekaligus ini sejatinya adalah pengembangan dari sistem rudal S-300 yang baru-baru ini dipasok Moskow kepada rezim Suriah. Pengembang senjata itu adalah Russia’s Almaz Central Design Bureau.

Latihan perang Vostok-2018 di Siberia timur bulan lalu, yang tercatat sebagai latihan militer terbesar Rusia sejak akhir Perang Dingin, ikut andil mempromosikan kehebatan sistem pertahanan S-400. Dalam latihan perang yang diikuti China dan Mongolia tersebut, senjata anti-pesawat Moskow itu diperlihatkan kinerjanya.

China menjadi negara pembeli dan penerima pertama. Turki, yang merupakan sekutu AS di keanggotaan NATO, sudah resmi membeli dan akan menerima pasokan perdana tahun 2019. Sekutu Washington lain yang berminat membelinya adalah Arab Saudi dan Qatar.

Peneliti di Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) kepada Al Jazeera, Senin (8/10/2018), mengatakan ada alasan tersendiri mengapa sekutu-sekutu AS meminati senjata pertahanan Moskow itu.

sumber: Sindonews