,

Takut Pesawat Tempurnya Ketembak Israel Lagi, Rusia Perkuat Militer Suriah Dengan S-300

Sistem pertahanan udara S-300 Rusia. Sistem ini rencananya akan dipasok ke Suriah. Foto/REUTERS/Alexander Natruskin

Pemerintah Rusia mengumumkan bakal mengirim sistem pertahanan anti-serangan udara S-300 untuk memperkuat militer Suriah.

Keputusan itu dibuat buntut tak sengaja tertembaknya pesawat intai Rusia Ilyushin Il-20 oleh sistem pertahanan Suriah di perairan Mediterania pekan lalu.

AFP mewartakan Senin (24/9/2018), Menteri Pertahanan Sergey Shoigu menjelaskan pengiriman sistem itu merupakan perintah langsung dari Presiden Vladimir Putin.

Pengiriman sistem rudal tersebut tidak saja meningkatkan keamanan angkasa Suriah. Namun juga pasukan Negeri “Beruang Merah” yang ditempatkan di sana. “Pengiriman sistem pertahanan S-300 itu bakal dilaksanakan dalam dua pekan ke depan,” kata Shoigu dalam wawancara televisi.

Sebelum Kremlin memutuskan mengirim S-300, pasukan pemerintah Suriah menggunakan S-200 yang dikembangkan Uni Soviet di era 1967 silam. Militer Suriah dilaporkan sudah terlatih menggunakan sistem S-300 itu. Namun, pengirimannya ditangguhkan atas permintaan Israel.

Selain memasok sistem rudal baru, Shoigu menuturkan Moskwa juga bakal memasang perangkat perusak sinyal radio di sekitar Mediterania.

Dengan adanya perangkat itu, setiap saluran komunikasi, radar, maupun navigasi satelit yang hendak menargetkan Suriah bakal diacak. “Kami yakin kebijakan ini bakal mendingnkan situasi dan menjauhkan pihak lain yang berencana mengancam militer kami,” tegas menhan 63 tahun itu.

Sebelumnya, pesawat Il-20 berisi 15 personel militer dilaporkan hilang dari radar Senin (17/9/2018) malam waktu setempat ketika hendak pulang ke Pangkalan Udara Khmeimim. Pesawat tersebut ditembak bersamaan dengan serangan yang dilakukan jet tempur F-16 Israel ke Provinsi Latakia untuk menghambat pasokan senjata Iran ke Hezbollah.

Dari laporan pejabat Amerika Serikat (AS), pesawat Il-20 itu tak sengaja ditembak S-200 dengan dugaan jet F-16 Israel menjadikannya sebagai tameng. Moskwa maupun Damaskus sama-sama menyalahkan Israel sebagai pihak yang bertanggung jawab. Adapun Putin menelepon Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Dalam percakapan keduanya, Putin mengatakan jatuhnya Il-20 merupakan sebuah insiden. Namun dia meminta Netanyahu agar tak lagi melaksanakan serangan udara ke Suriah.

SUMBER: kOMPAS