,

Masih Terus Mau Nambah, Padahal AS Sudah Punya Senjata untuk Hancurkan Dunia 10 Kali Lipat

Rudal nuklir tercanggih Rusia, hypersonic Sarmat ICBM yang diungkap pertama kali oleh Presiden Vladimir Putin di hadapan Dewan Federal Rusia, 1 Maret 2018 {Russia Today]

Militer – Amerika Serikat (AS) sudah memiliki senjata yang cukup untuk menghancurkan dunia hingga sepuluh kali lipat. Namun, Washington ingin menambah persenjataan lebih banyak karena khawatir dengan kebangkitan kekuatan militer China.

Penilaian itu disampaikan mantan anggota kongres Ron Paul saat mengkritisi rencana Presiden Donald Trump untuk menarik AS keluar dari perjanjian senjata nuklir dengan Rusia yang dikenal sebagai perjanjian Intermediate-Range Nuclear Forces (INF) 1987.

Ron Paul yang kini jadi Direktur Ron Paul Institute for Peace and Prosperity kepada Russia Today, Selasa (23/10/2018), mengatakan kompleks industri militer AS akan mencoba membenarkan penumpukan persenjataan nuklir dengan menuding militerisasi China sebagai sumber kekhawatiran.

“Itu berarti bahwa pemerintah Amerika, kompleks industri militer ingin membuat lebih banyak senjata, karena itu adalah China; ‘Orang China membuat semua senjata itu, mengapa kita tidak bisa’?,” kata Paul.

Dia tidak percaya bahwa ancaman China adalah alasan yang sah bagi pemerintah Trump untuk menumpuk lebih banyak senjata.

“Kami memiliki cukup banyak senjata, tidak hanya untuk menghancurkan diri sendiri tetapi untuk menghancurkan dunia 10 kali lipat dan kami tidak perlu khawatir tidak memiliki cukup senjata,” paparnya.

Jika AS menarik keluar dari perjanjian INF, lanjut Paul, itu bukan karena ada kebutuhan untuk persenjataan yang lebih banyak. “Saya rasa itu bukan argumen yang nyata,” kata mantan anggota kongres dari Partai Republik ini.

Pada hari Senin, Trump kembali menegaskan bahwa dia akan menarik AS keluar dari perjanjian INF yang diteken dengan Rusia tahun 1987. Alasannya, menurut Trump, Rusia tidak mematuhi perjanjian tersebut.

AS menuduh Moskow memproduksi senjata yang dilarang berdasarkan perjanjian itu. Tuduhan itu telah berkali-kali dibantah Moskow.

Trump mengindikasikan bahwa dia ingin perjanjian INF diubah juga untuk mengekang penumpukan persenjataan nuklir China.

Perjanjian INF yang diteken Presiden terakhir Soviet Mikhail Gorbachev dan Presiden AS Ronald Reagan 1987 mulai berlaku pada tahun 1998. Setelah Soviet runtuh dan berganti menjadi Rusia, perjanjian itu terus dipertahankan.

Perjanjian INF melarang pengembangan, produksi dan penyebaran semua rudal balistik dan rudal berbasis darat dengan kisaran antara 500km hingga 5.500 km.

Sumber: Sindonews