,

Ukraina Darurat Militer, Rusia Tambah Sistem Rudal S-400 di Crimea

Rusia mengerahkan batalyon ketiga sistem pertahanan udara S-400 ke Crimea. Foto/Istimewa

Militer – Rusia dalam watku dekat akan mengerahkan sistem rudal baru S-400 di semenanjung Crimea. Moskow umumkan pengerahan tambahan senjata pertahanan canggih itu setelah Ukraina mengumumkan darurat militer.

Kantor berita RIA, mengutip Kementerian Pertahanan Rusia, pada Rabu (28/11/2018) melaporkan tambahan sistem rudal S-400 akan beroperasi di Crimea pada akhir tahun ini. Namun, Moskow tak merinci berapa banyak sistem rudal baru yang akan dikerahkan.

Sistem rudal S-400 Triumph adalah sistem anti-pesawat yang dikembangkan oleh Rusia pada akhir 1980-an dan awal 1990-an. Rudalnya dapat mencapai target hingga jarak 400 kilometer. Sistem ini dapat mencegat target sejauh 600 kilometer dan dapat melacak 300 sasaran.

Moskow pada bulan September lalu telah mengoperasikan senjata pertahanan serupa di Feodosiya dan Sevastopol, semenanjung Crimea.

Rencana penambahan sistem rudal canggih oleh Moskow itu muncul di tengah konflik terbuka antara Ukraina dan Rusia atas status Crimea. Pada hari Minggu lalu, kapal perang Moskow menembaki kapal-kapal Kiev di Selat Kerch dengan alasan kapal-kapal militer Ukraina melanggar wilayah Rusia di Crimea.

Penembakan itu membuat sejumlah kapal militer Kiev rusak dan beberapa tentaranya terluka. Tiga kapal militer Kiev dan sejumlah tentaranya ditangkap pasukan Moskow.

Ukraina menanggapi situasi itu dengan memberlakukan Undang-undang Darurat Militer selama 30 hari di beberapa distrik yang sebagian besar di dekat perbatasan dengan Rusia.

Militer.me TV:

Kementerian Pertahanan Rusia secara resmi belum bersedia mengomentari rencana penambahan sistem rudal S-400 di Crimea. Kantor kepresidenan Ukraina juga belum berkomentar.

Presiden Ukraina Petro Poroshenko kepada NBC News pada hari Selasa mengatakan bahwa Rusia akan membayar “harga mahal” jika menyerang Ukraina. Dia juga memperingatkan ancaman invasi darat oleh Rusia.

Poroshenko membela keputusan pemerintahannya yang memberlakukan darurat militer. Menurutnya, tidak akan ada pembatasan pada hak konstitusional dan kebebasan warga Ukraina terkait penerapan darurat militer. Namun, dia memberi isyarat bahwa ada kemungkinan “mobilisasi parsial” tentara.

“Jika ada agresi, akan ada mobilisasi parsial. Pertama dan terutama, (tentara) cadangan gelombang pertama akan dimobilisasi, di mana tentara akan mengemas ransel dan menulis surat ke kantor rekrutmen tentang kesiapan mereka untuk membela Ukraina,” katanya, dalam sebuah pernyataan yang dirilis pemerintah.

“Dan segera, dari menit pertama, kami akan secara signifikan meningkatkan jumlah angkatan bersenjata kami, mendistribusikan sumber daya keuangan, menyediakan pasukan bersenjata kami dengan segala yang diperlukan dan memaksa musuh untuk bertanggung jawab atas pelanggaran perbatasan negara Ukraina,” lanjut Poroshenko.

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan pada hari Rabu bahwa tidak ada kontak telepon antara Presiden Vladimir Putin dan Presiden Poroshenko. Kiev mengklaim pihaknya telah meminta pembicaraan telepon dengan Moskow setelah insiden di Selat Kerch.
(mas)

Sumber : https://international.sindonews.com/