in

AS akan Kirimkan 5.000 Tentara ke Venezuela?

Para personel militer Venezuela. Foto/REUTERS

Merdeka – Di tengah ketegangan hubungan Amerika Serikat (AS) dengan Venezuela dalam dua pekan terakhir, AS dikabarkan akan mengirim ribuan pasukan ke negara penghasil minyak itu.

AS juga diketahui telah mengeluarkan sanksi kepada perusahaan minyak nasional Venezuela belum lama ini.

Rumor pengiriman pasukan ini muncul setelah Penasihat Keamanan Nasional AS, John Bolton menulis memo bertuliskan pengiriman 5 ribu pasukan ke Kolombia, yang merupakan negara tetangga terdekat Venezuela.

Pihak Kolombia membantah spekulasi mengenai memo itu. Kolombia menegaskan akan tetap bergantung pada pendekatan politik dan diplomasi dalam krisis Venezuela. Demikian disampaikan Menteri Luar Negeri Kolombia, Carlos Holmes, seperti dilansir dari Russia Today, Selasa (29/1).

Carlos juga mengatakan pihaknya tak paham kepentingan dan alasan di balik memo John Bolton.

Kolombia berbagi perbatasan darat 2.200 kilometer dengan Venezuela. Kolombia bersama dengan AS mendukung Juan Guaido, pemimpin oposisi yang mendeklarasikan diri sebagai presiden sementara Venezuela.

John Bolton terlihat memegang buku catatan kuning pada saat konferensi pers mengenai Venezuela. Baris pertama di kertas itu bertuliskan: “Afghanistan – menyambut perundingan,” sementara baris kedua berbunyi: “5.000 tentara ke Kolombia.”

Namun Gedung Putih menolak mengklarifikasi catatan tersebut dan kepada semua kantor berita Gedung Putih menyampaikan pernyataan bahwa semua opsi untuk Venezuela dalam pertimbangan.

Dalam jumpa pers itu, Menteri Keuangan AS, Steven Mnuchin mengumumkan sanksi akan dijatuhkan pada perusahaan minyak nasional Venezuela, Petroleos de Venezuela SA (PDVSA). Sanksi terhadap PDVSA akan membekukan aset senilai USD 7 miliar dan menghilangkan USD 11 miliar pendapatan negara tersebut.

AS membeli sejumlah besar minyak Venezuela, tetapi Mnuchin mengatakan bahwa sanksi itu akan memiliki “efek sederhana” pada impor Amerika. Presiden Venezuela Nicolas Maduro bereaksi keras atas sanksi tersebut dan menyebutnya sebagai sebuah tindakan kejahatan (kriminal). Maduro menyerukan kepada Donald Trump: “Lepaskan Venezuela!” Maduro juga telah lama menuduh AS dan negara-negara lain mengobarkan “perang ekonomi” yang bertujuan menyingkirkannya dari kekuasaan.

Maduro juga berjanji akan mengambil langkah tegas terhadap AS demi melindungi kepentingan Venezuela. Maduro juga didesak mundur oleh beberapa negara seperti AS, Spanyol, Prancis, Jerman, dan Inggris dan memberikan ultimatum untuk segera dilaksanakan Pemilu ulang. Menteri Luar Negeri Venezuela Jorge Arreaza mengatakan desakan negara-negara itu sebagai intervensi tingkat tinggi terhadap urusan dalam negeri negaranya.

“Pertama-tama, itu adalah intervensi ke tingkat tertinggi. Kedua, itu sombong, dan, ketiga, itu dibuat-buat,” tegasnya dalam sebuah wawancara dengan Russia Today Spanyol.

“Demokrasi Bolivarian hanya membutuhkan pengakuan dan dukungan dari rakyat Venezuela. Pemerintah lain tidak begitu menarik bagi kita,” pungkasnya.

Sumber: Merdeka

Beli Pulsa dan Paket Data di Bukalapak dapat Cashback hingga Rp100.000 Gunakan kode voucher PULSAJALAN

Loading...