in

Setelah Kalah dari Pakistan, Muncul Keraguan pada Militer Kuno India

Seorang tentara Pakistan berjaga di dekat reruntuhan pesawat militer India yang ditembak jatuh oleh militer Pakistan pekan lalu. (Foto: Associated Press/Abdul Razzaq)

Militer – Militer India tengah berada di bawah sorotan setelah seorang pilot mereka sempat menjadi tahanan Pakistan setelah pertempuran singkat di perbatasan. Sebagian besar perangkat perang militer India sangatlah ketinggalan zaman sehingga bisa dianggap kuno. Apa pun masalahnya, Amerika Serikat bertekad untuk menjadikan negara itu sekutu kunci di tahun-tahun mendatang untuk membendung ambisi regional China yang sedang berkembang.

Itu adalah momen yang tidak menguntungkan bagi militer India yang sedang didambakan Amerika Serikat untuk membantu membendung pengaruh China.

Seorang pilot Angkatan Udara India minggu lalu bertempur dengan sebuah pesawat perang dari Angkatan Udara Pakistan, dan akhirnya menjadi tahanan di belakang garis musuh untuk waktu yang singkat.

Pilot itu berhasil pulang dalam keadaan utuh, walau memar, tetapi nasib pesawat tua itu, MiG-21 dari era Soviet, kurang beruntung.

Pertempuran udara itu, pertempuran pertama yang dilakukan oleh saingan-saingan Asia Selatan dalam hampir lima dekade, adalah ujian yang jarang diterima oleh militer India―dan itu membuat para pengamat sedikit tercengang. Walaupun tantangan yang dihadapi oleh angkatan bersenjata India bukanlah rahasia, kalahnya sebuah pesawat minggu lalu dari Pakistan, yang ukuran militernya sekitar setengah ukuran militer India dan hanya menerima seperempat dari pendanaannya merupakan suatu hal yang mencengangkan.

Angkatan bersenjata India sedang dalam kondisi yang mengkhawatirkan.

Jika peperangan pecah besok, India hanya bisa memasok pasukannya dengan amunisi dalam 10 hari, menurut perkiraan pemerintah. Dan 68 persen dari peralatan militer sudah sangat tua, peralatan itu secara resmi dianggap “kuno.”

“Pasukan kami tidak memiliki peralatan modern, tetapi mereka harus melakukan operasi militer abad ke-21,” kata Gaurav Gogoi, seorang anggota parlemen dan anggota Komite Tetap Parlemen untuk Pertahanan.

Para pejabat Amerika yang bertugas memperkuat aliansi berbicara tentang misi mereka dengan frustrasi: birokrasi yang membengkak membuat penjualan senjata dan latihan bersama menjadi sulit; Pasukan India sangat kekurangan dana; dan angkatan laut, tentara dan angkatan udara negara itu cenderung bersaing daripada bekerja sama.

Apa pun masalahnya, Amerika Serikat bertekad untuk menjadikan negara itu sekutu kunci di tahun-tahun mendatang untuk membendung ambisi regional China yang sedang berkembang.

Tahun lalu, ketika Menteri Pertahanan Jim Mattis mengumumkan bahwa Pentagon mengganti nama Komando Pasifiknya―ke Indo-Pasifik―ia menekankan pentingnya India dalam perubahan tata dunia.

“Ini adalah komando utama pejuang kita,” kata Mattis, yang meninggalkan Pentagon pada akhir tahun lalu. “India terlibat erat dengan lebih dari setengah permukaan bumi dan populasi yang beragam, dari Hollywood ke Bollywood.”

Militer Amerika mulai memprioritaskan aliansinya dengan India ketika hubungan dekatnya dengan Pakistan memburuk selama dua dekade terakhir. Para pejabat AS khawatir bahwa Pakistan tidak berbuat cukup untuk memerangi terorisme, tuduhan yang dibantah negara itu.

Hanya dalam satu dekade, penjualan senjata Amerika Serikat ke India telah berubah dari hampir nol menjadi $15 miliar. Tapi Pakistan masih bisa menggunakan persenjataannya yang dia beli dari Amerika.

Para pejabat India mengatakan Pakistan menggunakan salah satu jet tempur F-16 untuk menembak jatuh MiG-21 pekan lalu. Pemerintah Pakistan membantah klaim itu, tetapi pada hari Minggu (3/3) Kedutaan Besar Amerika di Islamabad mengatakan Amerika Serikat sedang memeriksa laporan itu. Penggunaan pesawat tempur F-16 yang ofensif terhadap negara tetangganya mungkin merupakan pelanggaran terhadap perjanjian penjualan.

“Kami telah mengetahui laporan-laporan ini dan mencari lebih banyak informasi,” kata kedutaan dalam sebuah pernyataan. “Kami menanggapi semua dugaan penyalahgunaan artikel pertahanan dengan sangat serius.”

Betapapun bermasalahnya, militer India memiliki daya tarik strategis yang jelas bagi Amerika Serikat berdasarkan lokasi dan ukurannya.

India akan segera menjadi negara terpadat di dunia, dengan potensi akan mengungguli China pada tahun 2024. India berbagi perbatasan yang panjang dengan China selatan dan barat dan mengendalikan perairan penting yang dibutuhkan China untuk rute perdagangan maritimnya.

Semua itu dapat membantu Amerika Serikat mencoba mengotak-atik saingannya.

“Demografi India, potensi militer jangka panjangnya, bentangan geografisnya―membuat India layak ditunggu,” kata Jeff Smith, seorang peneliti Asia Selatan di Heritage Foundation di Washington dan penulis “Cold Peace: China-India Rivalry in the 21st Century.”

“Ketika China bangkit dan Amerika Serikat kesulitan untuk mempertahankan dominasinya, Amerika akan membutuhkan negara yang akan membantunya mencapai keseimbangan kekuatan di abad ke-21,” kata Smith. “Dan negara itu adalah India. Amerika Serikat mengetahui hal ini dan bersedia bersabar.”

Bagi militer India, pendanaan tetap menjadi tantangan terbesar.

Pada tahun 2018, India mengumumkan anggaran militer sekitar $45 miliar. Sebagai perbandingan, anggaran militer China tahun itu adalah $175 miliar. Bulan lalu, pemerintah India mengumumkan anggaran $45 miliar tambahan.

Ini bukan hanya pertanyaan tentang seberapa banyak pengeluaran India untuk militernya, tetapi bagaimana India membelanjakannya.

Mayoritas uang itu digunakan untuk membayar 1,2 juta pasukan tugas aktifnya, serta yang pensiun. Hanya $14 miliar yang akan digunakan untuk membeli perangkat keras baru.

“Pada saat tentara modern berinvestasi sangat besar untuk meningkatkan kecerdasan dan kemampuan teknis mereka, kita perlu melakukan hal yang sama,” kata Gogoi, anggota Parlemen.

Tidak seperti China, di mana pemerintah otoriter bebas untuk menetapkan kebijakan militer sesuai yang diinginkannya, India adalah negara demokrasi, dengan segala kekacauan yang dapat terjadi.

Memotong tingkat pasukan sehingga militer dapat menghabiskan uang untuk membeli peralatan modern tidak mudah. Militer India telah lama menjadi sumber pekerjaan bagi sebuah negara yang kesulitan mengatasi pengangguran terselubung yang kronis. Itu kemungkinan akan menjadi masalah besar dalam pemilu yang dijadwalkan untuk musim semi nanti.

Perdana Menteri Narendra Modi memenangkan pemilu pada tahun 2014 menjanjikan untuk mereformasi ekonomi dan menyediakan satu juta pekerjaan yang dibutuhkan setiap bulan untuk memuaskan tenaga kerjanya yang semakin berkembang. Tetapi menjelang pemilu, Modi telah mengingkari janji reformasi ekonomi dan menganut langkah-langkah populis.

“Dorongan pemerintah ini adalah untuk lebih fokus pada pembangunan ekonomi, yang harus mendahului kekuatan militer,” kata Amit Cowshish, mantan penasihat keuangan kementerian pertahanan untuk akuisisi militer. “Itulah yang dilakukan China―mereka fokus pada pengembangan ekonomi mereka dan kemudian fokus memperoleh status militer mereka saat ini. Perbedaannya adalah bahwa China memulai 20 atau 30 tahun lebih dulu dari kita dalam hal liberalisasi ekonomi.”

Seorang pejabat pemerintah India mengatakan mereka kesulitan untuk meningkatkan kebutuhan dasar warganya―contohnya seperti berurusan dengan tingkat buta huruf yang tinggi dan infrastruktur sanitasi yang buruk―membuat India sulit untuk menyalurkan lebih banyak uang ke militer di saat China menyerang halaman belakang India melalui darat dan laut.

China secara signifikan telah melampaui pesaingnya itu, menciptakan kelas menengah pembayar pajak yang kuat. Ledakan ekonomi China memungkinkannya untuk berinvestasi secara agresif dalam membeli perangkat keras militer terbaik dan memproduksinya di negeri sendiri.

Ketika konflik dunia semakin diperjuangkan dengan persenjataan canggih alih-alih pasukan penyerang di masa lalu, India tertinggal. Meskipun menjadi pemboros militer terbesar kelima, hanya sekitar seperempat dari anggaran militernya tahun ini yang akan digunakan untuk membeli peralatan baru.

Meskipun pembelian perangkat keras militer merupakan proses yang lambat di sebagian besar negara, di India proses itu bergerak lebih lambat di tengah birokrasi yang membengkak.

Ada juga kekhawatiran tentang korupsi.

Modi saat ini sedang dipojokkan oleh oposisi atas kesepakatan $8,9 miliar untuk membeli 36 pesawat tempur Rafale dari Prancis. Lawan politiknya telah menuduh perjanjian itu korup dalam upaya mendiskreditkannya sebelum pemilu.

Pembelian ini akan membantu India mengganti armada MiG-21 yang sudah tua dan jet lainnya. Dan pada hari Sabtu (2/3), perdana menteri tersebut berusaha membalikkan keadaan pada oposisi, dengan mengatakan India akan lebih baik dalam pertempuran dengan Pakistan minggu lalu jika memiliki jet Rafale.

“Negara telah merasakan dampak dari kekurangan Rafale,” kata Modi.

Sumber : https://www.matamatapolitik.com/

Loading...