in

Jika Perang AS-Iran Meletus, Israel Siap Ambil Bagian

Pasukan Israel

 Israel mengatakan sedang mempersiapkan kemungkinan keterlibatan militer dalam konfrontasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Hal itu diungkapkan di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Menteri Luar Negeri Israel, Yisrael Katz, memperingatkan bahwa situasi di Timur Tengah mungkin akan dibawa keluar dari zona abu-abu ke zona merah konfrontasi militer jika Iran salah membuat perhitungan. Hal itu diungkapkannya dalam sebuah forum keamanan internasional.

“Israel harus siap untuk eskalasi semacam itu dan terus mengabdikan dirinya untuk membangun kekuatan militernya dalam hal harus menanggapi skenario eskalasi,” kata Katz seperti disitir dari Russia Today, Rabu (3/7/2019).

Komentar itu muncul setelah seorang anggota parlemen senior Iran memperingatkan pada hari Senin bahwa jika AS menyerang Iran, Teheran akan merespons dan Israel hanya hidup setengah jam.

Kedua negara sering bertukar ancaman dan Israel sebelumnya mengancam akan mengambil tindakan militer terhadap Iran untuk mencegahnya membuat senjata nuklir, meskipun Teheran membantah pihaknya berusaha memproduksi bom.

Israel telah menjadi pendukung utama kebijakan “tekanan maksimum” agresif Presiden AS Donald Trump terhadap Iran, termasuk sanksi ekonomi yang digunakan Washington untuk mencekik ekonomi negara itu. Katz meramalkan bahwa “perang ekonomi” terhadap Iran akan berhasil meskipun kurangnya antusiasme untuk itu ditunjukkan oleh Eropa dan kekuatan lain – sumber frustrasi di Washington.

Ketegangan antara AS dan Iran telah meningkat selama berbulan-bulan. AS menuduh Teheran menyerang dua kapal tanker minyak di Teluk Oman pada bulan Juni lalu. Iran kemudian menembak jatuh sebuah pesawat mata-mata Amerika yang katanya memasuki wilayah udara, mendorong Trump untuk mempertimbangkan serangan militer yang ia batalkan pada menit terakhir.

Washington menuduh Teheran “bermain api” pada hari Senin setelah mengumumkan bahwa mereka telah melanggar batas pengayaan uranium berdasarkan ketentuan perjanjian nuklir 2015.

Trump meninggalkan kesepakatan nuklir tahun lalu, menyebutnya sebagai “bencana” dan “kesepakatan terburuk yang pernah ada” tetapi mengharapkan Teheran tetap patuh. Gedung Putih juga menuduh pada hari Senin bahwa Teheran telah melanggar ketentuan-ketentuan perjanjian bahkan sebelum ada. [Sindonews]

Berita dunia Militer di Instagram Follow Kami di @militerdotme
Loading...