Militer.me – 2017 menjadi tahun penuh kesuksesan bagi rezim Suriah yang berhasil merebut kembali sebagian besar wilayahnya dengan bantuan Rusia. Setelah kelompok oposisi dikalahkan dan tercerai-berai perang ini kelihatannya sudah mendekati akhir dengan kemenangan di tangan pasukan pemerintah. Jurnalis lepas Paul Iddon yang tinggal di Erbil, Irak, menuliskan analisisnya dalam soal situasi Timur Tengah saat ini di laman Alaraby.
Menurut dia, dua negara tetangga, Israel dan Turki, punya kekhawatiran tentang apa yang akan terjadi setelah konflik usai. Bagi Israel, pengaruh Iran yang semakin menguat di Suriah adalah berbahaya seiring pasukan Kurdi Suriah yang makin membahayakan buat Turki.
Baik Israel maupun Turki melancarkan serangan ke Suriah bulan ini dan bisa menyebabkan konflik di Suriah menjadi berlarut-larut.
Israel
Negeri Bintang Daud mulai melancarkan serangan udara dan rudal dari darat pada 9 Januari untuk menyasar apa yang mereka klaim gudang amunisi atau persenjataan yang diduga tempat penyimpanan rudal jarak jauh di Qutayfeh, sebelah timur laut Damaskus. Serangan kedua pada 16 Januari, menurut media Israel, dilaporkan menghantam gudang senjata Hizbullah di kawasan Mezzeh pangkalan udara militer, sebelah barat daya Damaskus.
Israel sebetulnya sudah melancarkan serangan udara beberapa kali ke Suriah sejak 2013. Mereka menyasar rudal canggih anti-serangan udara dan rudal anti-serangan kapal perang supaya Hizbullah tidak memiliki senjata-senjata yang diduga berasal dari Iran itu. Israel khawatir jika Hizbullah memiliki senjata canggih yang bisa digunakan buat menghantam mereka di masa depan.
Yang perlu jadi catatan adalah serangan-serangan ini terjadi ketika Damaskus tengah merebut kembali wilayahnya yang sebelumnya dikuasai oposisi atau pemberontak dan ISIS. Presiden Basyar al-Assad tinggal merebut beberapa kawasan lagi seperti di Idlib, Ghouta Timur, untuk kembali menguasai sebagian besar wilayah negara Suriah. Jika dia sudah berhasil maka pasukannya bisa lebih difokuskan untuk menghadapi dan membalas serangan Israel.
Turki
Turki juga mengerahkan pasukan darat dan udaranya di Suriah untuk menyapu habis pasukan milisi Kurdi yang dikenal dengan YPG yang menguasai dua pertiga perbatasan Suriah-Turki setelah mereka mengalahkan ISIS.
Turki menguasai sepertiga wilayah perbatasan di antara Jazira dan Kobane.
Militer AS dan YPG serta pasukan Pembebasan Suriah (SDF) sebelumnya berkoalisi untuk memerangi ISIS di Suriah. Turki tidak senang dengan tindakan AS ini terlebih lagi pekan lalu AS mengumumkan akan membentuk pasukan perbatasan beranggotakan 30 ribu personel yang sebagian milisi Kurdi. Langkah ini menurut Turki bisa mengancam keamanan karena sejak lama Kurdi dipandang sebagai kelompok separatis.
Sejak Sabtu lalu militer Turki menggempur Kota Afrin, di sebelah timur laut Suriah, yang menjadi wilayah kantong Kurdi di Suriah.
pasukan turki memasuki wilayah afrin suriah turkiye newspaper
Washington mengatakan mereka tidak bekerja sama dengan YPG di Afrin dan itu semakin menguatkan alasan Turki untuk menggempur Kurdi di wilayah itu. Serangan Turki ini bisa memperluas pertempuran hingga ke sepanjang sebelah utara Suriah.
Baik serangan Israel dan Turki memang keduanya tidak berhubungan, serangan itu menyasar kubu dan target yang berbeda tapi persamaannya adalah Assad kini hampir menguasai penuh wilayah negaranya dan jika itu sudah tercapai maka militer Suriah akan lebih siap dan fokus membalas serangan ke Israel dan Turki. Konflik di Suriah bisa semakin berlarut-larut.
Sumber: Merdeka.com
Baju Militer Anak Paling murah https://shope.ee/1AkMGMKChc
Baju Loreng Ala Militer keren https://shope.ee/4V0oF0TRSK