in

Tegang Dengan Iran, Ratusan Tentara As Akan dikirimkan ke Arab Saudi

Pemerintahan Presiden Donald Trump memperkuat hubungan militernya dengan Arab Saudi dengan bersiap mengirim ratusan tentara Amerika Serikat (AS) ke negara. Persiapan itu dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan Amerika dengan Iran. 

Menurut dua pejabat pertahanan Amerika, sekitar 500 tentara diperkirakan akan dikerahkan ke Pangkalan Udara Pangeran Sultan, yang terletak di daerah gurun di sebelah timur ibu kota Arab Saudi, Riyadh.

Sejumlah kecil pasukan dan personel pendukung sudah berada di lokasi dengan persiapan awal dibuat untuk operasional baterai sistem pertahanan rudal Patriot serta perbaikan landasan pacu dan lapangan terbang.

AS ingin menempatkan pasukan di sana selama beberapa waktu karena penilaian keamanan menunjukkan bahwa rudal Iran akan mengalami kesulitan menargetkan daerah terpencil.

Keputusan itu muncul ketika hubungan AS dan Arab Saudi masih sangat sensitif di tengah kemarahan Kongres tentang bagaimana pemerintah Trump bersikap soal kasus pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi.

Namun pemerintahan Trump mengatakan pihaknya berkomitmen untuk berusaha membantu melindungi Arab Saudi dari agresi Iran.

Bulan lalu pemerintah AS mengumumkan akan mengirim 1.000 pasukan tambahan ke Timur Tengah karena ketegangan Iran pecah, namun Washington tidak merinci negara mana yang akan mereka tuju. Pasukan yang akan dikerahkan ke Arab Saudi adalah bagian dari penyebaran 1.000 pasukan tersebut.

Kongres belum secara resmi diberitahu tentang penempatan ratusan tentara itu, meskipun seorang pejabat AS mengatakan kepada CNN bahwa mereka telah diberi penjelasan dan pengumuman diharapkan keluar pada minggu depan.

Pemberitahuan kepada Kongres akan memberikan rincian yang lebih tepat tentang penyebaran militer AS ke wilayah yang telah diumumkan secara publik.

Satelit komersial beresolusi tinggi dari Planet Labs dan citranya diperoleh oleh CNN, menunjukkan penyebaran awal pasukan AS dan personel pendukung ke pangkalan udara Saudi tersebut pada pertengahan Juni. Direktur Proyek Nonproliferasi Asia Timur di Middlebury Institute Studi Internasional di Monterey yang telah mempelajari gambar-gambar satelit telah mengonfirmasi data penyebaran pasukan AS tersebut.

Menurut Lewis, citra satelit berikutnya yang diambil pada akhir Juni dan awal Juli menunjukkan persiapan yang dibuat ke lokasi sebelum penempatan pasukan AS.

“Sebuah perkemahan kecil dan peralatan konstruksi muncul di ujung landasan pacu pada 27 Juni, menunjukkan bahwa perbaikan sudah berlangsung. Perkemahan di sebelah timur landasan pacu adalah tipikal dari skuadron teknik Angkatan Udara yang dikerahkan di luar negeri,” katanya kepada CNN, Kamis (18/7/2019).

Menurut para pejabat Washington, AS berharap dapat menerbangkan pesawat jet tempur F-22 generasi kelima dan pesawat tempur lainnya dari pangkalan itu.

Sejauh ini, Pentagon menolak untuk mengomentari penempatan pasukannya di Timur Tengah karena sensitivitas Saudi tentang kehadiran pasukan AS di Kerajaan Arab Saudi. Saudi juga belum mengumumkan bahwa pasukan AS akan datang ke negara tersebut.

Pada bulan Mei, Menteri Luar Negeri Michael Pompeo secara resmi mengatakan kepada anggota parlemen tentang rencana administrasi Trump untuk menggunakan aturan yang sudah ada sebelumnya, yang akan memungkinkannya untuk mempercepat penjualan senjata ke sekutu Amerika di Timur Tengah, termasuk Arab Saudi.

“Penjualan ini akan mendukung sekutu kami, meningkatkan stabilitas Timur Tengah, dan membantu negara-negara itu untuk mencegah dan mempertahankan diri dari Republik Islam Iran,” kata Pompeo dalam sebuah pernyataan pada saat itu yang menetapkan nilai penjualan sebesar USD8,1 miliar.

Langkah itu mengundang kecaman dua partai, di mana para anggota parlemen mengecam preseden yang ditetapkan, dengan mempertanyakan klaim pemerintah tentang keadaan darurat dan mengangkat masalah catatan hak asasi manusia Arab Saudi serta kasus pembunuhan Khashoggi.

Bulan lalu, beberapa anggota parlemen AS menegaskan kembali pandangan mereka bahwa deklarasi darurat tidak diperlukan. “Deklarasi darurat tidak lebih dari penyalahgunaan kekuasaan yang mengerikan oleh suatu administrasi yang tidak suka diberi tahu. Tidak. Tidak ada keadaan darurat, tetapi ada konflik di Yaman yang telah menewaskan ribuan warga sipil dengan senjata buatan AS yang lelah terlibat,” kata anggota Kongres dari Partai Demokrat, Ted Lieu, dalam sebuah pernyataan. [Sindonews]


Berita dunia Militer di Instagram Follow Kami di @militerdotme
Loading...