in

Mengenal Naval Convoy: Solusi Keamanan Maritim yang Dicintai dan Dibenci di Abad ke-21

Naval convoy adalah sebuah sistem keamanan maritim tradisional yang telah digunakan sejak lama. Dalam sebuah naval convoy, kapal-kapal yang rentan diserang ketika mengarungi lautan akan berlayar dalam rombongan agar bisa memberikan proteksi mutual. Jika berlayar sendirian kapal akan dengan mudah direbut atau dihancurkan oleh lawan, namun jika berlayar bersama, lawan pun akan kesulitan menyasar satu kapal spesifik dan kecil kemungkinannya bisa menghancurkan semua kapal dalam konvoi. Kapal-kapal yang berlayar dalam konvoi juga akan lebih mudah dikontrol dan dikawal oleh kapal perang bersenjata dalam jumlah yang lebih sedikit.

Meskipun sudah ada sejak era kapal layar, naval convoy kembali diterapkan dalam perang modern mulai sejak Perang Dunia I. Sistem naval convoy diterapkan oleh Sekutu sebagai counter terhadap unrestricted submarine warfare yang dilancarkan Jerman dengan armada U-Boatnya. Naval convoy Sekutu mencetak kesuksesan dalam perang ini, dimana Jerman gagal mencapai tujuan mereka untuk menenggelamkan perkapalan musuh sebanyak 6,000,000 GRT per bulan dan kehilangan kapal Sekutu tidak mencapai tahap kritis. Dari 16,539 kapal yang menjadi bagian dari konvoi menyeberangi Atlantik dalam kurun waktu Mei 1917 hingga November 1918, hanya 154 kapal yang tenggelam. 16 kapal tenggelam karena faktor alam dan 36 telah menjauh dari iring-iringan (straggler).

Naval convoy juga sukses digunakan dalam Perang Dunia II. Dalam Pertempuran Atlantik, Sekutu berusaha mempertahankan jalur laut untuk memasok Inggris sedangkan Jerman berusaha memblokade jalur-jalur ini dengan armada U-Boat yang sudah lebih modern dibanding U-Boat di masa Perang Dunia I. Inggris menerapkan sistem konvoi berukuran 30-70 kapal. Operational research yang dilakukan di kala perang membuktikan bahwa makin besar konvoi yang dilayarkan, makin aman juga bagi kapal-kapal karena besarnya konvoi mengurangi kemungkinan bahwa U-Boat akan berhasil menemukan kapal-kapal di lautan. Terdapat perlombaan taktik dan teknologi di laut antara Sekutu dan Poros yang akhirnya dimenangkan oleh Sekutu dengan kemajuan pesat di teknologi ASW.

Selama Perang Dingin pun naval convoy masih menjadi sistem keamanan maritim yang relevan. Sistem naval convoy diterapkan dalam Operation Earnest Will tahun 1987, ketika US Navy mulai mengawal kapal-kapal tanker Kuwait yang sudah di-reflag menjadi kapal US untuk mempertahankan mereka dari gangguan kekuatan laut Iran. Earnest Will menjadi salah satu faktor yang membuat Iran menerima negosiasi sebagai penghujung dari Perang Iran-Irak.

Kapal yang biasanya memerlukan pengawalan dalam konvoi laut adalah kapal tanker. Kapal tanker memiliki nilai ekonomis yang tinggi di kala damai, serta nilai industri yang tidak kalah tinggi di masa perang. Kapal tanker dilengkapi dengan holding tank berukuran besar untuk meningkatkan economies of scale ketika membawa produk. Tingkat otomatisasi sistemnya tinggi dengan awak yang sedikit, untuk mengurangi operating cost. Semua parameter desain dari kapal tanker menghasilkan kapal-kapal komersial yang berukuran besar, lamban, sulit bermanuver dan mudah terdeteksi, sehingga menjadi sasaran prioritas yang empuk.

Sebuah artikel yang ditulis di The Warzone oleh Chris Harmer, mengkarakterisasikan naval convoy sebagai sebuah “solusi ideal yang dibenci semua orang”. Hal ini benar terutama di Abad ke-21 karena selain memiliki sisi positif, naval convoy juga memiliki sisi negatif tersendiri. Terutama bagi operator, pemilik kapal, investor perusahaan perkapalan dan debt financer.

Di era globalisasi, industri perkapalan modern telah menjadi sangat kompetitif dan efisien. Makin ke depan, turnaround time di pelabuhan bagi kapal menjadi makin cepat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kapal harus masuk ke dalam pelabuhan, menurunkan kargo, mengangkut kargo, dan berlayar lagi secepat mungkin. Alasannya sederhana, kapal yang berlayar membawa kargo dari asal ke tujuan menghasilkan pendapatan. Kapal yang diam saja di pelabuhan hanya menghasilkan biaya.

Kapal, seperti capital investment pada umumnya, dibeli dengan kombinasi debt financing dan equity investment. Para investor ingin investasi mereka menghasilkan uang, dan debt financer ingin pembayaran bunga mereka dilakukan tepat waktu. Uang akan mengalir jika kapal dan awak bekerja. Masalahnya, jika kapal harus menunggu sekian waktu hingga sebuah konvoi terbentuk sebelum mulai berlayar, penundaan tersebut akan mengakibatkan opportunity cost yang besar bagi pemilik kapal. Kapal yang bersandar diam tanpa kargo ataupun kapal penuh kargo yang sudah dibayar namun bersandar diam adalah situasi dimana ada banyak biaya, namun tidak ada pemasukan.

Bagi angkatan-angkatan laut modern, naval convoy juga bukan urusan gampang. Ancaman yang dihadapi merchant shipping di laut-laut sekarang mayoritas merupakan ancaman asimetris, mulai dari bajak laut Somalia hingga kapal-kapal boghammar Iran di Selat Hormuz. Untuk melakukan pengawalan terhadap konvoi, US Navy sebagai contoh bisa mengerahkan kombatan permukaan Ticonderoga-class dan Arleigh Burke-class, beserta Cyclone-class dan kapal-kapal berukuran lebih kecil lainnya. Kapal-kapal tersebut memiliki persenjataan yang mumpuni, bahkan lebih dari cukup jika yang dihadapi hanyalah boat-boat kecil.

Masalahnya ada dalam cost effectiveness. Sebuah Arleigh Burke yang berawak dan bersenjata lengkap memiliki biaya sekitar 2 miliar dollar, sedangkan speedboat yang digunakan perompak Somalia berada di kisaran $10,000. Kapal-kapal Iran yang bersenjata lebih lengkap jelas lebih mahal, tapi tidak akan semahal destroyer dengan segala sensor suite, gun maupun misilnya.

Patrol ship Cyclone-class maupun Mark VI dapat dioperasikan dengan biaya yang lebih murah, namun peran kapal-kapal ini adalah sebagai suplemen. Mereka tidak memiliki jarak jangkau maupun komponen C3I (Command, Control, Communications and Intelligence) yang memadai untuk menjaga konvoi sendiri. Cyclone-class dan kapal Mark VI akan berpartisipasi dalam mengawal konvoi, namun konvoi akan dipimpin oleh sebuah cruiser/destroyer. Cyclone dan Mark VI juga akan harus diisi ulang di laut. Hal ini juga yang menjadi alasan mengapa US Navy memerlukan kapal-kapal LCS, dengan jarak jangkau yang cukup serta komponen C3I yang memadai untuk memimpin konvoi, namun dengan ukuran hull setengah dari sebuah Burke-class.

Selain itu, kombatan-kombatan permukaan yang dimiliki US Navy telah memiliki misi tersendiri yang menjadi prioritas. Dua misi yang selalu dijalani ini adalah pengawalan bagi carrier battle group, serta pertahanan misil balistik bagi sekutu-sekutu mereka. Jika kapal-kapal perang ini ada yang harus dialokasikan untuk menjaga konvoi, berarti jumlah kapal yang bisa mempertahankan kapal induk atau mencegat misil balistik di kawasan pun berkurang.

Inilah mengapa naval convoy tidak diimplementasikan dengan mudah ketika menghadapi ancaman perompak Somalia. US lebih memilih untuk menyelesaikan akar permasalahan di tingkat state dan institusi maupun menyasar mothership para perompak, sedangkan perusahaan perkapalan menyewa security contractor untuk ditempatkan di atas kapal ketimbang repot-repot mengurus konvoi laut.

Berita dunia Militer di Instagram Follow Kami di @militerdotme
Loading...