in

Punya Banyak Uang, Arab Saudi Mau Bangun Industri Militernya Sendiri

In this photo provided by the Saudi Press Agency (SPA), Royal Saudi Land Forces and units of Special Forces of the Pakistani army take part in a joint military exercise called "Al-Samsam 5" in Shamrakh field, north of Baha region, southwest Saudi Arabia, Monday, March 30, 2015. (AP Photo/SPA)

Arab Saudi sebagai salah satu negara importir senjata terbesar di dunia kemarin mengumumkan akan memberi izin bagi perusahaan yang akan memproduksi senjata api, amunisi, bahan peledak militer, peralatan militer, peralatan militer individu, dan elektronik militer di negeri kaya minyak itu. Arab Saudi dengan kata lain tengah membangun industri militernya sendiri.

Kantor berita Saudi, SPA, melaporkan Otoritas Umum untuk Industri Militer (GAMI) mulai melisensikan perusahaan untuk memproduksi senjata api, amunisi, bahan peledak militer, peralatan militer, peralatan militer individu, dan elektronik militer.

Dilansir dari laman Reuters yang dikutip Haaretz, Senin (9/9), Gubernur GAMI Ahmed al-Ohali mengatakan kebijakan itu akan membuka pintu bagi investasi asing dan lokal di sektor ini.

Putra Mahkota Saudi Muhammad bin Salman mengumumkan, investasi dibutuhkan untuk memenuhi reformasi dan menginginkan Riyadh untuk memproduksi atau merakit setengah dari peralatan pertahanannya secara lokal untuk menciptakan 40.000 peluang lapangan kerja bagi orang Saudi pada 2030.

Saudi selama ini mengimpor senjata terutama dari Amerika Serikat.

Tahun lalu Gedung Putih mengumumkan kepada Kongres AS telah menyepakati penjualan senjata senilai USD 1 miliar atau Rp 13,7 triliun kepada Arab Saudi. Adapun paket penjualan itu mencakup 6.700 tank anti-rudal buatan Amerika Serikat.

Dilansir dari laman Fox News, Jumat (23/3/2018), penjualan tersebut juga termasuk alat penunjang, pemeliharaan, dan suku cadang tank AS, helikopter, dan peralatan lain yang sudah ada di gudang Saudi. Anggota parlemen diberi waktu 30 hari untuk menyetujui atau menolak kesepakatan ini.

Pengumuman tersebut dibuat dua hari setelah Putra Mahkota Saudi Muhammad bin Salman melawat ke AS dan bertemu dengan Presiden Donald Trump.

Sumber: Merdeka

Loading...