in

Pentagon Akui Serangan Terhadap Fasilitas Minyak Saudi Sangat Canggih

serangan ke ladang minyak arab saudi

– Pentagon mengatakan bahwa serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi yang terjadi baru-baru ini sangat canggih. Serangan tersebut juga mewakili eskalasi dramatis dalam ketegangan di wilayah tersebut.

“Ini adalah eskalasi dramatis dari apa yang telah kita lihat di masa lalu. Ini adalah sejumlah proyektil yang mengudara, sangat canggih, terkoordinasi dan memiliki dampak dramatis pada pasar global,” kata juru bicara Pentagon Jonathan Hoffman, menambahkan bahwa serangan itu adalah masalah internasional.

“Apa yang saya pikir telah dilakukan adalah menginternasionalkan masalah ini,” sambung Hoffman.

“Mereka benar-benar telah menunjukkan bagaiman dampak serangan dapat melemahkan. Harapan yang kita miliki dan saya pikir yang Saudi harus lakukan adalah bahwa rekan-rekan dunia internasional harus melihat ini dan menyadari bahwa mereka harus melangkah dan membantu untuk mengendalikan perilaku Iran tetapi juga mengajak Iran kembali ke jalur diplomatik,” tuturnya seperti dikutip dari CNBC, Jumat (20/9/2019).

Pentagon menolak mengatakan apakah akan ada aset militer tambahan yang dipindahkan ke wilayah tersebut setelah serangan sebelum fajar yang terjadi pada Sabtu lalu itu.

“Kami terus-menerus menilai wilayah dan lingkungan, tetapi kami tidak memiliki pengumuman untuk dibuat pada saat ini dalam hal jenis penyesuaian kekuatan,” kata Kolonel Angkatan Udara A. Patrick Ryder, juru bicara Kepala Staf Gabungan.

Pentagon juga menegaskan kembali bahwa Amerika Serikat (AS) tidak mencari konflik dengan Iran dan meminta Teheran untuk kembali ke saluran diplomatik.

“Tujuan kami adalah untuk mencegah konflik di Timur Tengah … kami tidak ingin konflik. Yang kami lihat adalah ketika Iran dihadapkan dengan tantangan diplomatik dan ekonomi berdasarkan perilaku mereka, mereka telah merespons dengan aksi militer dan kami ingin untuk mendapatkannya kembali di saluran diplomatik,” jelas Hoffman.

Serangan terhadap pabrik pemrosesan minyak mentah terbesar di dunia memaksa Saudi untuk menutup setengah dari operasi produksinya. Terlebih lagi, peristiwa ini memicu lonjakan terbesar harga minyak mentah dalam beberapa dekade dan memperbaharui kekhawatiran akan konflik yang mulai menanjak di Timur Tengah. Sementara itu, Iran menyatakan bahwa negara itu bukan pihak yang berada di belakang serangan.

Pada hari Rabu, kementerian pertahanan Arab Saudi mengatakan bahwa puing-puing drone dan rudal yang ditemukan oleh penyelidik menunjukkan jika Iran harus disalahkan atas serangan tersebut. Juru bicara koalisi Saudi, Kol Turk al-Maliki mengatakan dalam konferensi pers di Riyadh bahwa semua komponen militer yang diambil dari fasilitas minyak merujuk pada Iran.

Konfrontasi terbaru mengikuti serangkaian serangan di Teluk Persia dalam beberapa bulan terakhir.

Pada Juni, para pejabat AS mengatakan rudal darat-ke-udara Iran menembak jatuh pengintai militer Amerika di Selat Hormuz. Iran mengatakan pesawat itu berada di atas wilayahnya. Beberapa jam kemudian, Trump mengatakan Iran melakukan kesalahan sangat besar dengan menembak jatuh pesawat mata-mata itu. Penembakan itu terjadi seminggu setelah AS menyalahkan Iran atas serangan terhadap dua kapal tanker minyak di wilayah Teluk Persia dan setelah empat tanker diserang pada bulan Mei.

AS pada Juni lalu memberikan sanksi baru kepada para pemimpin militer Iran yang dipersalahkan karena menembak jatuh pesawat tak berawak. Langkah-langkah ini juga bertujuan untuk memblokir sumber daya keuangan untuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Meskipun Trump telah mengancam akan melakukan aksi militer atau bahkan “menembak dan marah” terhadap musuh-musuh Amerika, dia juga mengatakan dia tidak ingin melemparkan AS ke dalam konflik militer berkepanjangan lainnya. Dalam sebuah tweet pada Selasa lalu, Trump menyebut tanggapannya yang terukur terhadap serangan itu tanda kekuatan yang tidak dipahami oleh sebagian orang.

Sumber : https://international.sindonews.com

Berita dunia Militer di Instagram Follow Kami di @militerdotme
Loading...