in

Kurdi dan Tentara Suriah Akhirnya Bersatu Lawan Invasi Turki

Foto: Antiliberalnews

 Pasukan Kurdi akhirnya sepakat bersatu dengan tentara rezim Suriah untuk menghadapi invasi Turki di Suriah timur laut. Kesepakatan tercapai ketika 700 militan yang berafiliasi dengan ISIS melarikan diri dari sebuah kamp tahanan saat wilayah tersebut diserang Ankara.

Kesepakatan bersatu antara pasukan Kurdi dan tentara Suriah tercapai pada hari Minggu atau ketika invasi Turki memasuki hari kelima.

Para pejabat Kurdi pada Minggu malam mengatakan pihak Kurdi yang menguasai wilayah Suriah timur laut akan menyerahkan kota perbatasan Manbij dan Kobane ke pemerintah Suriah dalam kesepakatan yang ditengahi oleh Rusia.

“Unit-unit dari pasukan Presiden Bashar al-Assad bergerak ke utara untuk menghadapi agresi Turki di wilayah Suriah,” tulis kantor berita pemerintah Suriah, SANA, yang dilansir The Guardian, Senin (14/10/2019).

Laporan itu juga menyebutkan bahwa kesepakatan antara Kurdi dan rezim Assad akan diperpanjang untuk diterapkan di seluruh Suriah timur laut.

“Setelah semuanya, tampaknya nasib rakyat Kurdi (harus ditinggalkan). Kami melakukan semua yang kami bisa, kami menyerukan kepada masyarakat internasional…tetapi itu tidak menghasilkan solusi. Kami mendesak semua (kelompok) Kurdi untuk menunjukkan solidaritas, tetapi tidak ada yang mendengarkan,” kata Ismat Sheikh Hassan, pemimpin dewan militer di Kobane—salah satu faksi pasukan Kurdi—kepada stasiun televisi lokal.

Kesepakatan itu akan mengakhiri status semi-otonomi selama lima tahun bagi kelompok-kelompok Kurdi di Suriah timur laut akibat serangan ofensif Ankara. Invasi Turki dengan nama sandi “Operation Spring Peace” dimulai pada hari Rabu setelah pengumuman Presiden Donald Trump bahwa pasukan AS akan menarik diri dari wilayah tersebut.

Trump belum menentukan jangka waktu untuk penarikan AS dari Suriah, tetapi pada hari Minggu Menteri Pertahanan AS Mark Esper mengatakan 1.000 pasukan khusus yang tersisa di negara itu telah diperintahkan untuk meninggalkan wilayah secepat mungkin sebagai imbas dari pertempuran antara Turki dan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin Kurdi. Pertempuran itu mulai mengancam posisi militer AS.

SDF telah didanai dan dilatih oleh AS untuk memerangi kelompok Islamic State atau ISIS sejak 2015. SDF berhasil mengalahkan ISIS pada Maret lalu setelah kehilangan 11.000 tentaranya dalam pertempuran.

Namun, Turki mengatakan unit terbesar SDF, Kurdi YPG, adalah kelompok teroris yang tidak dapat dibedakan dari Partai Pekerja Kurdistan (PKK) yang telah berperang dalam pemberontakan melawan negara Turki selama beberapa dekade.

Keputusan Trump untuk meninggalkan SDF untuk diserang Turki dikecam banyak pihak, termasuk dari negara-negara sekutunya. Keputusan Trump dianggap sebagai pengkhianatan terhadap pasukan Kurdi yang selama ini menjadi sekutu AS dalam perang melawan ISIS.

Pada hari Minggu, setidaknya 750 militan yang berafiliasi dengan ISIS dilaporkan melarikan diri dari kamp tahanan di Suriah timur laut.

Prancis menyuarakan keprihatinannya atas laporan itu. “Saya tidak tahu, hari ini, siapa sebenarnya orang-orang yang melarikan diri dari kamp; telah menjadi kekhawatiran bagi Prancis sejak awal intervensi bersenjata ini,” kata juru bicara pemerintah Sibeth Ndiaye kepada televisi France 3.

Prancis telah dilanda gelombang serangan jihadis sejak 2015, di mana banyak yang mengklaim atau terinspirasi oleh ISIS. Prancis telah menyatakan keprihatinan bahwa serangan Turki akan mendukung kelompok itu. [Sindonews]

Loading...