in

Militer Cina Pasang Balon Udara untuk Awasi Laut Cina Selatan

Militer China memamerkan kekuatan di Laut China Selatan yang dipersengketakan oleh empat negara ASEAN dan Taiwan. (Reuters/Stringer)

Militer Cina dilaporkan mengerahkan balon udara untuk mengawasi Laut Cina Selatan yang menjadi sengketa dengan negara-negara Asia Tenggara.

Gambar satelit menunjukkan bahwa Cina telah mengerahkan balon udara yang dikenal sebagai aerostat di kawasan Laut Cina Selatan, tepatnya di Mischief Reef yang disengketakan, memperkuat kemampuan pengintaiannya di Laut Cina Selatan.

Dikutip dari South China Morning Post, 30 November 2019, sebuah objek berbentuk pesawat terlihat melayang di atas atol, yang sekarang menjadi pos terdepan Cina di perairan yang disengketakan, perusahaan satelit Israel ImageSat International (ISI), mengatakan dalam sebuah unggahan di akun Twitter-nya pada hari Minggu.

Foto-foto itu, yang diambil oleh ISI pada 18 November, adalah bukti pertama bahwa Cina telah mengerahkan pesawat semacam itu di daerah itu, kata ISI.

Cina dilaporkan mulai membangun sistem peringatan dini aerostat pada 2017. Balon besar dilengkapi dengan radar susunan bertahap untuk membantu mendeteksi pesawat terbang yang terbang rendah, menurut majalah militer Kanwa Asian Defense.

Balon udara itu dapat tetap terbang tinggi untuk jangka waktu yang lama, menawarkan solusi yang relatif murah, efisien dan tahan cuaca untuk memantau area yang luas ketika pesawat mata-mata tidak dapat digunakan. Saat dipadukan dengan radar darat, satelit, dan pesawat pengintai peringatan dini, mereka dapat membentuk jaringan pengawasan yang komprehensif.

Aerostat sedang dikerahkan di beberapa titik rawan strategis Cina seperti perbatasan negara itu dengan Korea Utara dan Selat Taiwan. Menurut Kanwa Asian Defense, aerostat bertenaga tinggi dapat memonitor target udara dan benda bergerak dalam radius 300 km.

Mischief Reef terletak di tepi timur tujuh pulau buatan yang dibangun oleh Cina di kepulauan Spratly.

Pulau terumbu karang itu mencakup 5,5 km persegi dan bisa dibangun lapangan terbang yang mampu menangani Airbus A320. Pulau ini juga memiliki mercusuar dan fasilitas militer dan sipil lainnya.

Pada tahun 2016, pengadilan internasional memutuskan bahwa karena pulau itu adalah terumbu yang terendam air pasang, maka tidak memenuhi syarat untuk perairan teritorial 12 mil laut atau 22,2 km.

Militer Cina telah memperluas jangkauannya secara signifikan di Laut Cina Selatan, membuat radar, mengerahkan rudal dan peluncur rudal dan pesawat tempur di pulau-pulau dan terumbu karang di kawasan itu, tempat Vietnam, Filipina, Malaysia, Indonesa, Brunei, dan Taiwan juga mengklaim kedaulatan di Laut Cina Selatan. [Tempo]

Loading...