in

Diam-diam, Militer Israel Latih Milisi Haftar Libya

Milisi pro Khalifa Haftar Libya. Foto/Istimewa
Milisi pro Khalifa Haftar Libya. Foto/Istimewa

Panglima perang Libya Khalifa Haftar diam-diam telah bertemu dengan para pejabat intelijen Israel. Pertemuan itu berujung pada pelatihan militer perang jalanan oleh Israel kepada para pendukung Haftar.

Hal itu diungkapkan oleh sejumlah sumber di Libya dan Mesir kepada New Arab Al Araby, Minggu (8/12/2019).

Menurut laporan itu, perjanjian kerja sama keamanan antara kedua belah pihak memunculkan Mesir yang mengoordinasikan pemindahan perwira khusus Israel ke wilayah yang dikuasai Haftar di Libya untuk melaksanakan pelatihan pada Agustus dan September 2019.

Tentara Nasional Libya (LNA) Haftar dan suku sekutunya, milisi dan tentara bayarannya saat ini terkunci dalam pertempuran untuk merebut Ibu Kota Tripoli dan mengalahkan Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) yang diakui PBB yang dipimpin oleh Fayez Sarraj.

Sementara LNA dan pemerintah Libya timur didukung oleh Mesir, Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Prancis dan Rusia, GNA berbasis Tripoli didukung oleh Italia, Turki dan Qatar.

Sumber-sumber menunjukkan bahwa keterlibatan Israel terjadi ketika pasukan Haftar bergerak maju ke pinggiran Tripoli, dan memerlukan perubahan taktik untuk memimpin kampanye perang jalanan.

“Militer Israel dan persenjataan intelijennya sangat terspesialisasi dalam perang jalanan, setelah melakukan banyak pertempuran di kamp-kamp pengungsi Palestina yang berpenduduk padat, tempat banyak gerakan gerilya muncul,” bunyi laporan tersebut.

Sumber tadi menambahkan bahwa pertemuan antara Haftar dan pejabat Israel adalah yang pertama dari jenisnya yang akan diadakan di wilayah Libya.

Haftar diketahui telah diam-diam bertemu dengan pemerintah Israel dan agen intelijennya Mossad dalam pertemuan yang dimediasi oleh UEA. Satu pertemuan seperti itu di musim panas 2018 menyebabkan Israel setuju untuk memasok senjata, termasuk senapan sniper dan peralatan penglihatan malam, ke LNA milik Haftar.

Laporan-laporan pertemuan terakhir ini datang setelah sumber-sumber diplomatik Mesir mengungkapkan bahwa Abdullah al-Thani, kepala pemerintah yang berafiliasi dengan Haftar di timur Libya mengadakan pembicaraan dengan para pejabat Mesir di Kairo pada Selasa.

Al-Thani dilaporkan bertemu dengan kepala Badan Intelijen Umum Mesir Abbas Kamel, dan Menteri Luar Negeri Sameh Shukri, membahas bagaimana melawan perjanjian keamanan dan ekonomi terbaru pemerintah Sarraj dengan Turki, yang telah ditentang keras oleh Mesir.

Langkah ini dilakukan di tengah laporan bahwa Mesir, UEA dan Arab Saudi meluncurkan upaya untuk menghidupkan kembali momentum LNA dengan menarik pengakuan dari Dunia Arab, Afrika, dan Dunia Islam terhadap Dewan Presiden yang didukung PBB dan yang dipimpin oleh GNA di Libya, alih-alih mengakui Haftar dan parlemen Tobruknya sebagai pemerintah yang sah.

Libya saat ini berada di bawah embargo senjata PBB, yang tampaknya tidak digubris karena Haftar dan pemerintah yang diakui secara internasional terus menerima pasokan senjata.

Haftar dan pasukan sekutunya berbasis di Libya timur dan telah melakukan kampanye untuk mengambil Ibu Kota Tripoli dari GNA sejak April tahun ini.

Menurut PBB konflik lanjutan ini telah mengakibatkan kematian lebih dari 1.000 orang, melukai hampir 6.000 dan memaksa 120.000 orang meninggalkan rumah mereka.

Bukti keterlibatan Haftar dalam kejahatan perang semakin meningkat. Amnesty International telah melaporkan bahwa pasukan jahat telah terlibat dalam serangan tanpa pandang bulu terhadap warga sipil dan infrastruktur sipil, seperti daerah pemukiman dan fasilitas medis. SindoNews

Loading...