in

PT Pindad Bekerjasama Dengan Indhan Ukraina SPETS, Upgrade Hanud S 60 Dan Produksi BTR 4M!

BUMN Industri Pertahanan PT PIndad terus berekspansi dengan cara bekerjasama dengan Industri Pertahanan Luar Negeri untuk menjadi salah satu industri pertahanan berkelas dunia. Seperti diberitakan Jitu News (8/2/2020) PT Pindad menjalin kerjasama dengan Industri Pertahanan Ukraina SPETS untuk mengupgrade senjata pertahanan udara (arhanud) lawas S 60 dan produksi bersama panser BTR 4M

Menurut Wamenhan Sakti Wahyu Trenggono yang menyaksikan penandatangan kerjasama tersebut, realisasi dari kerjasama Pindad-SPETS ini adalah meningkatkan kemampuan Arhanud TNI AD S 60 dengan fire control radar dan Surveilance Radar berkemampuan jarak deteksi hingga 150 Km. Tidak hanya itu pengawakan senjata hanud yang normalnya membutuhkan hingga 8 prajurit kini hanya satu orang operator saja karena sistem sudah terkomputerisasi dan otomatis yang disebut Air Defence System.

Sebagai informasi saat ini satuan Arhanud TNI AD masih menggunakan alutsista buatan Uni Soviet tahun 1950an ini, di gudang senjata TNI AD masih mengoperasikan sekitar 236 unit S 60 yang jika dielaborasi terdiri dari 188 unit yang masih menggunakan sistem manual dan 48 unit yang sudah mendapatkan modernisasi/retrofit.

Selain dalam bidang Air Defence Pindad juga melanjutkan dan melakukan review untuk joint production ranpur BTR 4M yang sebelumnya telah diinisiasi oleh Pindad pada tahun 2014 lalu. Ranpur amfibi ini telah dioperasikan oleh Korps Marinir TNI AL sebanyak 5 unit.

Pertama kali datang pada tahun 2016 Ranpur berpenggerak roda 8×8 ini dibeli untuk memenuhi ekspetasi Korps Marinir TNI AL terhadap ranpur angkut pasukan berkemampuan amfibi yang juga lihai untuk bertempur. Dilengkapi dengan sistem kubah Parus yang terpasang kanon otomatis ZTM-1 kaliber 30 mm dan rudal anti tank Baryer di sisi kanan kubah.

Untuk membuktikan bahwa Korps Marinir TNI AL tidak salah pilih maka BTR 4 melakukan uji coba secara simultan di Ukraina, kala itu BTR 4 melakukan uji coba di danau yang tenang. Dan bisa ditebak hasilnya pun sukses karena tidak ada tantangan sama sekali berupa ombak.

Begitu diuji coba di Indonesia, BTR 4 langsung dicemplungkan di laut untuk uji coba. Dan ternyata hasil “renang” laut BTR 4 menurut Marinir tidak memuaskan karena kemampuan BTR-4M saat mengarung pada kondisi full speed dan masalah kebocoran, hal ini wajar mengingat Korps Marinir mendapuk BTR 4 ini harus mampu berenang dari kapal angkut ke darat

Karena hasil uji tidak memuaskan mau tidak mau Korps Marinir harus mengevaluasi lebih lanjut pengadaan BTR 4, rencana semula 5 unit ini merupakan batch awal sekaligus barang uji coba dan jika sukses Korps Marinir tidak keberatan untuk memborong 55 unit lagi BTR 4.

Dan perkembangan terakhir Nasib BTR 4 sudah habis di Indonesia karena berhenti di angka 5 unit saja, sebagai gantinya Korps Marinir memilih BT 3F untuk menggantikan BTR 50.

Sumber: World Defense Zone

Loading...

SEPAH NEWS/ AFP PHOTOEmpat peluru kendali mengudara di sebuah kawasan gurun yang tak disebutkan di Iran. Foto ini diperoleh dari divisi publikasi Garda Revolusi, Sepah News.

Militer Iran: Serangan Rudal di Irak Sebabkan AS Rugi Besar

Virus Corona Kacaukan Proyek Kapal Induk dan Jet Tempur China