in

Dulu Garang Hadapi Kapal Perang Amerika, Kini Tentara China Bak Macam Ompong di Laut China Selatan

AS mengirim dua kapal induk dan beberapa kapal perang ke Laut China Selatan (LCS). Foto/Ilustrasi
AS mengirim dua kapal induk dan beberapa kapal perang ke Laut China Selatan (LCS). Foto/Ilustrasi

Selasa (14/7/2020), sebuah kapal perang Angkatan Laut AS berlayar hanya jarak 12 mil laut pulau-pulau buatan yang menjadi pangkalan militer China di Kepulauan Spratly, Laut China Selatan.

USS Ralph Johnson, kapal perusak rudal berpemandu kelas Arleigh Burke, melakukan operasi navigasi kebebasan (freedom of navigation operation/FONOP) dalam jarak 12 mil laut ke Cuarteron Reef dan Fiery Cross Reef – dua pulau buatan China di Laut China Selatan.

Bagaimana respons China setelah kapal Amerika berani melintasi pangkalan militer China di Fiery Cross Reef ?

Biasanya Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) langsung mengerahkan armadanya mengusir kapal Amerika seperti yang terjadi sebelumnya, saat kapal induk AS dikandangkan akibat krunya terpapar Covid-19.

Namun berbeda saat menanggapi aksi USS Ralph Johnson, media pemerintah China seperti Global Times tidak memuat berita soal aksi balasan tentara China pada USS Ralph Johnson.

Sekadar mengingat, kapal perang China dengan garang mengusir kapal perang Amerika Serikat (AS) yang masuk tanpa izin ke perairan teritorial China di lepas pantai Kepulauan Xisha di Laut China Selatan, 28 Mei 2020.

Juru Bicara militer China, Kolonel Senior Li Huamin, menyatakan, operasi militer AS di tengah pandemi corona, menunjukkan bahwa Uwak Sam merupakan sumber yang menyabotase perdamaian dan stabilitas di Laut China Selatan.

Mengutip Global Times, Kamis (28/5/2020), keputusan China menggerek anggaran militer dibenarkan dengan adanya provokasi AS seperti ini, kata para analis.

Dalam aksi mengusir kehadiran kapal perang AS yang menegangkan itu, Komando Teater Selatan PLA mengorganisir pasukan angkatan laut dan udara untuk mengikuti kapal perusak rudal USS Mustin yang dipandu AS secara ilegal masuk ke perairan teritorial China di lepas Kepulauan Xisha pada hari Kamis.

“Kemudian Pasukan Komando mengikuti dan memantau jalur kapal perang AS, mengidentifikasi dan memperingatkan serta mengusirnya,” ujar Li.

Ini bukan pertama kalinya militer China mengusir kapal perang AS dari Laut China Selatan tahun ini.

Peristiwa serupa terjadi pada akhir Januari dengan kapal tempur pesisir USS Montgomery di dekat kepulauan Nansha.

Kemudian pada awal Maret dengan kapal perusak USS McCampbell di dekat Kepulauan Xisha dan pada akhir April dengan kapal perusak USS Barry di dekat Kepulauan Xisha.

Namun sejak kehadiran kapal induk USS Nimizt dan USS Ronald Reagan di Laut China Selatan, terjadi perubahan drastis.

Melansir SCS Probing Initiative, hampir setiap hari pesawat mata-mata Amerika melakukan aksi pengintaian mendekati teritorial China.

Dan hampir tak ada pesawat China maupun kapal perang China yang menghadangnya.

Seperti biasanya media corong pemerintah China hanya memuat gertak dan ancaman.

Aksi USS Ralph Johnson bertepatan dengan pernyataan Asisten Sekretaris Negara AS untuk Asia Timur dan Pasifik David Stillwell di sebuah acara virtual yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Strategis dan Internasional yang berbasis di Washington DC.

Dalam sambutannya, Stillwell berbicara tentang “kampanye untuk memaksakan perintah ‘mungkin membuat benar’ di Laut China Selatan,” dan mengatakan “Beijing bekerja untuk melemahkan hak-hak kedaulatan negara-negara pantai lainnya dan menolak akses mereka ke sumber daya lepas pantai. ”

Pidatonya ini memperjelas pengumuman Sekretaris Negara AS Mike Pompeo bahwa posisi Amerika Serikat di Laut China Selatan akan lebih selaras putusan UNCLOS pada 2016 dalam kasus Filipina tahun 2013 melawan China.

Stillwell mengatakan “Amerika Serikat menolak klaim RRC untuk perairan di luar laut teritorial 12 mil laut yang berasal dari pulau-pulau yang diklaimnya di Kepulauan Spratly.”

“Ini berarti bahwa Amerika Serikat menolak klaim maritim RRC di perairan sekitar Vanguard Bank (di luar Vietnam), Luconia Shoals (di luar Malaysia), Natuna Besar (di luar Indonesia), atau di perairan di ZEE Brunei,” tambahnya. [TribunMedan]

Loading...

Pesawat Pengintai Turki Jatuh, 7 Personel Keamanan Tewas

Semakin Memanas! Militer Armenia Tembak Jatuh 13 Drone Angkatan Udara Azerbaijan