in

Hubungan Kian Panas, AS Makin sering Lakukan Pengintaian Udara terhadap China

YOUTUBE Pesawat pengintai EP-3 milik AS yang ditugaskan mengintai kapal selam China yang berpatroli di Laut China Selatan.

Hubungan Amerika Serikat dengan China masih memanas hingga kini.

Mulai dari perang dagang hingga ketegangan di kawasan Laut China Selatan.

Baru-baru ini, Amerika Serikat getol mengintensifkan pengintaian melalui udara di wilayah pantai China, dan Laut China Selatan.

Kegiatan pengintaian melalui udara itu mencapai rekor yang jauh melampaui waktu sebelum krisis.

Hanya dalam sepekan terakhir saja, paling tidak sudah empat kali pesawat pengintai E-8C milik AU Amerika Serikat terdeteksi berada di sekitar 130 km dari pantai wilayah tenggara China, Pronvisi Guangdong.

Data kegiatan pengintaian oleh Amerika Serikat itu diungkapkan oleh sebuah lembaga penelitian strategis yang berbasis di Beijing, South China Sea Strategic Situation Probing Initiative (SCSPI), yang dikutip scmp.com, Sabtu, 25 Juli 2020.

Lembaga itu juga merilis tangkapan percakapan radio komunikasi antara awak Angkatan Laut China dengan awak pesawat militer Amerika Serikat.

Dalam rekaman itu terdengar peringatan dari awak kapal AL China kepada awak pesawat pengintai Amerika Serikat supaya putar haluan, atau akan dicegat AU China.

Percakapan radio yang direkam oleh radio amatir itu berlangsung saat pesawat pengintai Amerika Serikat mendekati kawasan pantai selatan China, di sebelah utara Selat Taiwan.

“Belakangan ini militer Amerika Serikat rutin melakukan pengintaian tiga sampai lima kali per hari di Laut China Selatan,” kata SCSPI.

Sepanjang paruh pertama tahun 2020 ini, lanjut SCSPI, misi pengintaian udara Amerika Serikat di Laut China Selatan sudah memasuki babak baru.

Pesawat-pesawat pengintai Amerika Serikat bahkan kerap melakukan penerbangan yang sangat dekat sekali dengan batas udara China sejak April lalu.

Kejadian terbaru pada Mei lalu, ketika sebuah pesawat milik Angkatan Laut Amerika Serikat P-8A Poseidon – pesawat khusus untuk memburu kapal selam – mendekati batas 15 km dari wilayah udara China di dekat Pulau Hainan, wilayah paling ujung selatan China.

Pada tiga pekan Juli ini saja, menurut data SCSPI, Amerika Serikat melakukan penerbangan pengintaian sekitar 60 kali, bersamaan dengan latihan perang China di Laut China Selatan.

Pada saat itu AL Amerika Serikat juga melakukan latihan perang di perairan tersebut, sebagai tandingan terhadap China.

Pada hari tertentu, misal pada 3 Juli lalu, paling tidak delapan pesawat Amerika Serikat berbagai jenis antara lain P-8A EP-3E, RC-135W and KC-135, memasuki wilayah Laut China Selatan.

Pesawat-pesawat itu sebagian berpangkalan di kapal induk USS Ronald Reagan dan USS Nimitz, yang beroperasi di sekitar kawasan Asia.

Dua armada tempur Amerika Serikat yang dipimpin dua kapal induk iu melakukan latihan di Laut China Selatan sebanyak dua kali pada 14 dan 17 Juli lalu.

Di antara hari itu, Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat mengeluarkan pernyataan bahwa klaim China atas perairan Laut China Selatan tidak punya dasar hukum.

Laut China Selatan yang kaya minyak itu merupakan salah satu jalur laut paling sibuk di dunia.

Sepertiga pelayaran internasional global melalui perairan tersebut.

China mengklaim sebagian besar wilayah perairan Laut China Selatan adalah miliknya.

Klaim China tersebut sebagian mencakup wilayah yang diklaim oleh Vietnam, Filipina, Malaysia, Brunei dan Indonesia.

Intensitas pengintaian yang tinggi oleh Amerika Serikat itu, menurut Hu Bo, direktur SCSPI, jelas dimaksudkan untuk mengumpulkan antara lain sinyal komunikasi, dan frekuensi radio militer China, Tentara Pembebasan Rakyat (PLA).

Terlebih sinyal tersebut sedangkan digunakan oleh PLA ketika melakukan latihan perang.

Data tersebut sangat penting mengingat perang di masa sekarang dan mendatang sangat mengandalkan elektronika.

“Peningkatan misi pengintaian udara Amerika Serikat itu punya potensi sebagai sumber konflik,” kata Hu Bo.

Kegiatan pengintaian udara Amerika Serikat pernah menimbulkan insiden serius pada April 2001.

Ketika itu pesawat AL Amerika Serikat EP-3E Aries II yang sedang melakukan pengintai di sekitar Pulau Hainan, bertabrakan dengan pesawat tempur AU China J-8II, yang mencoba melakukan pencegatan.

Akibat tabrakan itu pilot pesawat China tewas, sedangkan pesawat Amerika Serikat terpaksa mendarat darurat di Pulau Hainan, yang berakibat menimbulkan krisis diplomatik Amerika Serikat-China. [Tribun]

Loading...

Alutsista TNI akan Terus Ditambah Karena China Masih Jadi Ancaman di Natuna

Kerahkan 26 Kapal Perang, TNI AL Latihan Perang di Dekat Laut China Selatan

Laut China Selatan Kian Panas, Pasukan Marinir TNI Lakukan Simulasi Perang di Pulau Dabo