in

Kudeta Mali: Militer Mau Bebaskan Presiden, tapi Minta Berkuasa 3 Tahun

MOUSSA KALAPO/REUTERSMassa bersorak mendukung militer Mali di Alun-alun Kemerdekaan, setelah sukses melakukan kudeta pemerintahan di Bamako, Mali, Selasa (18/8/2020)

Kelompok junta militer yang melakukan kudeta pemerintahan di Mali bersedia membebaskan presiden yang mereka culik, tapi ada syaratnya.

Mereka ingin ada badan transisi yang dipimpin militer berkuasa selama 3 tahun sebagai syarat pembebasan Presiden Ibrahim Boubacar Keita.

Keterangan itu disampaikan seorang sumber dalam delegasi Afrika Barat yang berkunjung ke sana pada Minggu (23/8/2020).

“Junta telah menegaskan bahwa mereka menginginkan transisi tiga tahun untuk meninjau kembali fondasi negara Mali.”

“Transisi ini akan diarahkan oleh sebuah badan yang dipimpin seorang tentara, yang juga akan menjadi kepala negara,” kata sumber di delegasi ECOWAS ibu kota Bamako, kepada kantor berita AFP.

“Pemerintah juga sebagian besar akan diisi tentara” dalam usulan junta, kata sumber yang tak mau disebut namanya itu.

Lebih lanjut ia menambahkan, junta setuju untuk “membebaskan Presiden Keita” yang ditahan bersama para pemimpin politik lainnya sejak kudeta pada Selasa (18/8/2020), dan dia “akan pulang ke rumahnya” di Bamako.

“Dan jika dia ingin bepergian ke luar negeri untuk berobat, itu bukan masalah,” imbuh sumber ECOWAS dikutip dari AFP.

Perdana Menteri Boubou Cisse yang ditahan bersama Keita di pangkalan milter luar ibu kota, akan dipindahkan ke tempat tinggal yang aman di kota itu, lanjut sumber tersebut.

Kemudian seorang pejabat junta mengonfirmasi ke AFP, benar bahwa mereka telah memutuskan nasib Keita dan Cisse, serta bahwa “transisi tiga tahun akan dilakukan dengan presiden militer dan pemerintahan yang sebagian besar terdiri dari militer”.

Kudeta terjadi usai gelombang demonstrasi yang terjadi berbulan-bulan menyerukan Keita mundur, karena kekecewaan publik atas pemberontakan kelompok milisi yang brutal di sana dan ekonomi yang kolaps.

Meski mendapat kecaman dunia, ribuan pendukung oposisi merayakan penggulingan presiden di jalan-jalan Bamako.

Junta berkata, pihaknya “menyelesaikan pekerjaan” para pengunjuk rasa dan berjanji menggelar pemilu “dalam waktu yang tepat”.

Namun negara-negara tetangga Mali meminta Keita tetap menjabat, dengan mengatakan tujuan kunjungan delegasi dari blok regional ECOWAS adalah untuk membantu “segera memastikan kembalinya tatanan konstitusional”.

Kudeta pada Selasa pekan lalu adalah yang kedua kalinya di Mali dalam 8 tahun terakhir.

Kekhawatiran tentang stabilitas regional lalu meningkat, karena kelompok milisi kini juga menjadi ancaman negara tetangga yakni Niger dan Burkina Faso. Sumber: Kompas.com

Loading...

Vietnam Diintai Pesawat Pembom Militer China

Turki Mau Sikat Yunani Pakai Jet Tempur Canggih Buatan AS