in

Indonesia Harus Bersiap, Ahli Sebut Ketegangan ASEAN-China Bisa Berujung Perang Besar

AS dan Inggris menggelar latihan militer bersama pertama kalinya di Laut China Selatan (LCS). Foto/Ilustrasi/Istimewa

laim Nine Dash Line menjadi titik panas pertikaian antara ASEAN-China.

Jika mau Asia Tenggara damai maka mau tak mau China harus menghapus klaim Nine Dash Line karena bertentangan dengan UNCLOS 1982 PBB.

Akan tetapi Beijing menolak menghapus Nine Dash Line dan bisa ditebak ASEAN yang didukung Eropa dan Amerika Serikat (AS) meradang bukan main.

Sekarang di meja perundingan sedang digelar diplomasi antara ASEAN-China perihal kisruh Nine Dash Line.

Dalam rangkaian pertemuan minggu lalu antara 10 negara ASEAN dengan China dan Amerika Serikat, Beijing telah berusaha untuk menunjukkan bahwa negosiasi kembali ke jalurnya.

Namun,Hoang Thi Ha yang juga ketua peneliti politik dan keamanan ASEAN di ISEAS-Yusof Ishak Institute, mengatakan bahwa pertemuan ini hanya membahas tentang bagaimana melanjutkan negosiasi, bukan negosiasi itu sendiri.

“Saya pikir pandemi telah menghilangkan dalih bagi China untuk mempromosikan narasi bahwa semua tenang di LCS dan ASEAN-Beijing membuat kemajuan karena tidak ada diskusi substantif untuk mengklaim kemajuan,” kata dia.

Ha menambahkan untuk saat ini masih ada kepentingan yang bertentangan antara penuntut ASEAN dan China dalam penerapan hukum internasional, terutama Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS) sebagai dasar klaim maritim.

“Ada masalah lingkup maritim yang hampir tak terselesaikan. Jadi melihat perkembangan terakhir baik di front ‘lawfare’ dan ketegangan di laut, saya tidak yakin bahwa posisi dan kepentingan ini akan dapat segera didamaikan,” katanya.

Selain itu, jika kode etik tersebut disetujui kemungkinan akan dipermudah dari versi yang diharapkan oleh kedua belah pihak. ASEAN menginginkan kode etik yang mengikat secara hukum yang dipandu oleh perjanjian UNCLOS, tapi China tidak menginginkan hal ini.

Di tahun 2002, ASEAN dan China menandatangani Deklarasi tidak mengikat tentang Perilaku Para Pihak di Laut China Selatan (Declaration on the Conduct of Parties in the South China Sea.

Deklarasi ini mendesak semua pihak untuk menahan diri di perairan yang disengketakan.

Le Hong Hiep yang juga dari ISEAS-Yusof Ishak Institute memprediksi negosiasi antara ASEAN-China akan terus tertunda.

“Prediksi saya, negosiasi akan terus tertunda, dan saya kira tidak akan selesai dalam tiga tahun ke depan, ” kata dia.*

Sumber: Zonajakarta
Loading...

Komando Militer China Ingin Bumi Hanguskan Taiwan

Pertahanan Udara Arab Saudi Gagal Lindungi Kotanya dari Rudal Yaman