in

Presiden Turki Erdogan dan Raja Salman Sepakat Perbaiki Hubungan

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud. (AFP/BERK OZKAN)
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud. (AFP/BERK OZKAN)

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud sepakat untuk memperbaiki hubungan.

Hal tersebut dibahas dalam panggilan telepon menjelang KTT G20 di Riyadh di mana Arab Saudi menjadi tuan rumah pada Sabtu dan Minggu, (21/11) hingga (22/11).

Lewat percakapan telepon, Erdogan dan Raja Saudi membahas hubungan bilateral dan bertukar pandangan tentang KTT G20. Demikian diungkapkan kantor kepresidenan Turki pada Jumat malam seperti dikutip dari AFP.

“Presiden Erdogan dan Raja Salman sepakat menjaga dialog tetap terbuka agar hubungan bilateral ditingkatkan dan masalah diselesaikan,” kata kantor kepresidenan Turki.

Percakapan telepon antara Erdogan dan Raja Salman menjadi momen langka sejak pembunuhan jurnalis Saudi Jamal Khashoggi.

Turki dan Arab Saudi telah lama bersaing untuk meraih supremasi di dunia Muslim. Ketegangan kian meningkat sejak pembunuhan jurnalis Washington Post Jamal Khashoggi di konsulat Saudi di Istanbul pada Oktober 2018.

Kasus ini memicu protes internasional dan menodai reputasi global Putra Mahkota Mohammed bin Salman.

Pejabat Turki menyebut Khashoggi dicekik dan jasadnya dimutilasi oleh pasukan Saudi yang terdiri dari 15 orang di dalam konsulat. Hingga kini jenazahnya belum ditemukan.

Erdogan mengatakan perintah untuk membunuh Khashoggi datang dari “level tertinggi” pemerintah Saudi, namun tidak pernah secara langsung menyalahkan Pangeran Mohammed.

September lalu pengadilan Saudi membatalkan hukuman mati kepada lima terdakwa pembunuh Khashoggi. Mereka dijatuhkan hukuman 20 tahun penjara.

cnn

Loading...
AS kerahkan pembom B-52 ke Timur Tengah pasca umumkan pengurangan pasukan. Foto/Ilustrasi

Mencegah Agresi dan meyakinkan Sekutunya, AS Kerahkan Pembom B-52 ke Timur Tengah

Ilustrasi. Komandan USFK, Jenderal Robert Abrams menduga, rudal yang dipamerkan dalam parade militer Korut pada Oktober lalu hanya barang lama yang dimodifikasi. (Courtesy of Korean Central News Agency)

Komandan Pasukan Amerika Serikat-Korea (USFK) Ragukan Kemampuan Senjata Baru Korut