in

Komisi III DPR Minta Masyarakat Tak Terprovokasi Penembakan 6 Anggota FPI oleh Polisi

Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran menjelaskan soal penembakan pengikut HRS di tol. (20detik)
Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran menjelaskan soal penembakan pengikut HRS di tol. (20detik)

Anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Wayan Sudirta meminta agar masyarakat tidak terprovokasi dengan penembakan terhadap enam anggota Front Pembelas Islam (FPI) oleh anggota polisi. Dia yakin, polisi punya pertimbangan hukum sebelum melakukan tindakan tersebut.

“Dari peristiwa ini, kita diharapkan jangan terburu-buru, agar kita tidak keliru mengambil kesimpulan,” kata anggota Komisi III DPR Wayan Sudirta kepada wartawan, Senin (7/12/2020).

Menurut Wayan, konstitusi memang menjamin hak asasi setiap warga negara. Namun di sisi lain, hak asasi setiap orang bukan tanpa batas. Hak asasi warga negara harus tetap sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum.

Dalam konteks peristiwa ini, kata Wayan, polisi bertindak untuk menjaga ketertiban umum dan keamanan. Dia mengajak publik memberikan kesempatan ke polisi untuk memberikan penjelasan secara terbuka dan apa adanya kepada semua pihak.

“Setiap peristiwa pasti memiliki latar belakang dan rangkaian proses yang panjang. Untuk itu asas sebab akibat juga harus kita telusuri secara mendalam,” kata Wayan.

Sejauh ini menurut Wayan, polisi cukup beralasan sampai harus menembak enam orang tersebut karena untuk melindungi diri. Wayan mendapat informasi bahwa enam orang yang tewas ditembak ingin menyerang polisi.

“Secara tupoksi sebagai penjaga ketertiban dan keamanan, polisi sudah bertindak benar dengan upaya penyelidikan untuk melakukan pencegahan pengerahan massa terkait pemeriksaan Rizieq Shihab,” tambahnya.

Menurut Wayan, kasus ini harus mendapatkan perhatian serius dari semua pihak. Tidak ada salahnya jika pihak berwenang menginvestigasi apakah polisi sudah bertindak sesuai standar operasional prosedur. Andai penembakan tersebut benar-benar untuk membela diri atau dalam kondisi darurat, polisi tidak bisa dihukum.

Wayan mengatakan, pelajaran dari peristiwa ini adalah siapapun, baik itu tokoh masyarakat atau pemimpin organisasi, setiap menjalankan aktivitas harus tetap sesuai koridor hukum.

“Hilangkan sikap-sikap arogan, main hakim sendiri, dan sikap saling menghujat. Negara kita merupakan negara hukum yang domokratis,” papar Wayan.

Liputan6

Loading...

6 Jenazah Pengikut Rizieq Dibawa ke RS Polri Kramat Jati, TNI hingga Panser Bersenjata Siaga

Pengamat intelijen Susaningtyas Kertopati menilai peristiwa yang menewaskan 6 Laskar FPI adalah kondisi sebab akibat. Foto/dok.SINDOnews

Ini Kata Pengamat Intelijen soal Penembakan 6 Anggota Laskar FPI