in

AS Resmi Beri Sanksi ke Turki Karena Beli Rudal S-400 Rusia

s400 rusia

Amerika Serikat akhirnya menjatuhkan sanksi terhadap Turki pada Senin kemarin atas pembelian sistem pertahanan udara S-400 dari Rusia. Seorang pejabat senior AS mengatakan, sikap Turki yang menolak membatalkan pembelian itu membuat Amerika Serikat tidak punya pilihan lain.

Keputusan ini membuat hubungan kedua negara semakin rumit. Pemerintah Turki mengutuk sanksi tersebut dan mendesak Washington untuk merevisi keputusan yang disebutnya tidak adil.

“Kami meminta Amerika Serikat untuk merevisi sanksi yang tidak adil (dan) untuk kembali dari kesalahan besar ini secepat mungkin. Turki siap untuk menangani masalah ini melalui dialog dan diplomasi dengan cara yang sesuai dengan semangat aliansi,” bunyi pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Turki dikutip dari Reuters, Selasa, 15 Desember 2020.

Menurut Turki, sanksi ini bakal berdampak negatif terhadap hubungan kedua negara. “Dan Turki akan membalas dengan cara dan waktu yang dianggap tepat,” tambah kementerian itu.

Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat berharap dapat menemukan resolusi atas keputusan Turki membeli sistem pertahanan udara S-400 dari Rusia itu. “Keputusan ini tidak memberi kami alternatif. Kami berharap pemerintah Turki akan bersedia untuk terlibat dengan kami dalam mencoba menemukan resolusi untuk ini,” kata Christopher Ford, Asisten Menteri Luar Negeri untuk Keamanan dan Nonproliferasi Internasional.

Washington memberlakukan sanksi ini pada badan pengadaan dan pengembangan pertahanan Turki, ketuanya, dan tiga karyawan lainnya.

Amerika Serikat berdalih keputusan Turki untuk menggunakan S-400, yang diperoleh dari Moskow pada 2019, membuatnya tidak memiliki pilihan mengingat jet tempur F-35 dan pertahanan bersama lainnya akan rentan terhadap musuh NATO, Rusia.

Sebelumnya AS telah mencoret Turki dari program pengembangan pesawat tempur F35 serta pelatihan militer akibat keputusan Turki membeli Rudal S-400, walau tidak ada langkah lebih jauh selain peringatan berulang kali dari pejabat AS bahwa sistem S-400 adalah ancaman bagi keamanan sekutu yang lain serta tidak cocok dengan sistem persenjataan NATO 

“Amerika Serikat sudah terang benderang kepada Turki hingga tingkat paling tinggi dan pada berbagai kesempatan menekankan, pembelian sistem rudal pertahanan udara S-400 akan membahayakan personil dan keamanan teknologi militer AS, serta hanya akan memberi dukungan bagi industri pertahanan Rusia serta membuat Rusia bisa mengakses angkatan bersenjata Turki dan industri pertahanan mereka,” tegas Menlu AS Mike Pompeo seperti dilaporkan Associated Press. 

Pompeo lebih lanjut beralasan,”Turki tetap saja memutuskan untuk membeli dan mengujicoba rudal S-400, terlepas dari adanya pilihan lain seperti sistem rudal milik NATO yang bisa memenuhi kebutuhan pertahanan mereka,”

“Saya mendesak Turki untuk menyelesaikan masalah S-400 ini secepatnya dengan koordinaasi Amerika Serikat,” seraya menambahkan, “Turki adalah sekutu berharga dan mitra keamanan regional penting bagi AS, dan kami mengharapkan kelanjutan sejarah kerja sama pertahanan yang produktif selama beberapa dekade ke belakang, dengan cara mengenyahkan halangan diantara kita yaitu kepemilikan rudal S-400 selekas mungkin,” tutur Pompeo lebih lanjut. 

Kementerian luar negeri Turki dalam pernyataannya “menolak dan mengecam” hukuman AS, sambil mengatakan hukuman sepihak AS itu sama sekali tidak bisa dipahami.

“Turki akan mengambil langkah apapun yang diperlukan untuk melawan keputusan ini, yang tidak bisa dihindari lagi akan mempengaruhi hubungan kami secara negatif, serta kami akan membalasnya dengan cara dan pada waktu yang kami anggap sesuai,” demikian pernyataan kementerian luar negeri Turki seperti dilaporkan Associated Press. 

Pernyataan Turki itu berulang kali menegaskan bahwa rudal S-400 tidak akan berpengaruh bagi sistem NATO. 

Turki lebih lanjut meminta AS untuk “membalik keputusan buruk ini secepatnya,” sambil menambahkan bahwa Ankara siap dengan dialog dan diplomasi. 

Hukuman AS ini menargetkan jajaran pemimpin Industri Pertahanan Turki, badan yang bertugas melakukan pembelian senjata, pemimpinnya Ismail Demir, serta tiga pejabat senior lainnya. 

Hukuman ini membekukan aset dan harta empat pejabat Turki itu yang berada di dalam yurisdiksi AS, serta melarang mereka untuk datang ke AS. Hukuman itu juga termasuk pembatalan lisensi ekspor, kredit dan pinjaman kepada lembaga tersebut. 

Pemerintahan AS berbulan-bulan menahan diri dari penerapan hukuman selain program pesawat tempur, sebagian karena ingin memberi waktu bagi pejabat Turki agar bisa mempertimbangkan kembali, dan sebagian diduga karena hubungan pribadi yang baik presiden Trump dengan presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Terlepas dari itu, berbulan kebelakang Turki tetap melanjutkan uji coba sistem rudal S-400 yang memunculkan kritik dari Kongres AS dan pihak lain yang menuntut penerapan sanksi berdasarkan CAATSA atau Countering America’s Adversaries Through Sanctions Act, yang memandatkan hukuman atas transaksi yang dianggap melanggar kepentingan AS. 

Hukuman ini dijatuhkan hanya beberapa minggu sebelum Joe Biden diambil sumpahnya menjadi presiden Amerika Serikat, sehingga potensial memunculkan dilema bagi pemerintahan AS selanjutnya walau telah muncul sinyal bahwa pemerintahan yang akan datang menentang penggunaan rudal S-400 oleh Turki serta perpecahan dalam NATO sebagai akibatnya.

Chris Ford, salah seorang pejabat paling senior di bidang pengendalian senjata kementerian luar negeri Amerika Serikat dikutip Associated Press mengatakan,”Kami sangat menyesal hal ini sampai diperlukan,”

Matthew Palmer, pejabat senior Kemenlu AS Biro Eropa menjelaskan,”Menerapkan hukuman bagi sekutu NATO bukanlah sesuatu yang kita anggap enteng,”

Bulan lalu, Menteri Pertahanan Turkey Hulusi Akar mengatakan, Turki siap berdiskusi dengan AS atas kegelisahan tentang interoperabilitas atau kecocokan S-400 dengan F-35. AS menanggapi adem ajakan itu dan Pompeo tidak lama setelah pernyataan itu datang ke Istanbul namun tidak bertemu dengan pejabat pemerintah Turki.

Turki menguji sistem rudal pertahanan udara S-400 untuk pertama kalinya bulan Oktober lalu, yang kontan langsung mendatangkan kecaman dari Pentagon.

Ankara mengatakan, mereka terpaksa membeli sistem senjata Rusia itu karena AS menolak untuk menjual sistem rudal Patriotnya. Pemerintah Turki juga menyoroti standar ganda, dimana anggota NATO lain, yaitu Yunani, juga memiliki sistem rudal buatan Rusia.

Loading...
Kapal perang tanpa awak pertama yang diluncurkan Turki. Foto/Anadolu

Bersenjatakan Rudal, Turki Pamerkan Kapal Perang Tanpa Awak Buatan Dalam Negirnya

Bareng Kapolda Metro, Pangdam Jaya Cek Pasukan di Markas Yonif Mekanis 201