in

Sirene Serangan Udara Meraung-raung di Teheran, karena F-35 Israel?

Jet tempur siluman F-35A Amerika Serikat saat diuji coba menjatuhkan bom nuklir inert dengan kecepatan supersonik. Foto/F-35 Joint Program Office

Sirene serangan udara terdengar meraung-raung di Teheran, Iran , pada Jumat malam, membuat takut penduduk setempat dan mendorong munculnya sejumlah teori tentang apa yang bisa menyebabkan insiden itu. Salah satu teori yang menyebar secara online adalah karena pesawat jet-jet tempur siluman F-35 Israel mendekat.

Sirene seperti itu terakhir kali diaktifkan adalah selama Perang Iran-Irak, di mana pasukan Irak menembakkan banyak rudal—beberapa di antaranya dipersenjatai dengan amunisi kimia—ke kota-kota Iran.

Hampir bersamaan dengan aktifnya sirene serangan udara di Teheran, pesawat komersial Turki batal mendarat di bandara Ibu Kota Iran tersebut dan mengalihkan pendaratannya ke Baku, Azerbaijan.

Media Iran, Tasnim, yang mengutip seorang pejabat terkait, menyatakan aktivasi sistem sirene serangan udara darurat Teheran tidak ada hubungannya dengan dugaan ancaman udara yang berasal dari Israel atau jet tempur F-35.

“Insiden tadi malam (Jumat malam) tidak ada hubungannya dengan ancaman udara yang akan mengaktifkan sistem pertahanan udara negara,” kata pejabat tersebut pada Sabtu pekan lalu yang dilansir Sputniknews, Minggu (31/1/2021) malam.

Menurut laporan Tasnim, spekulasi merajalela di media sosial di Iran setelah sirene terdengar di Teheran barat, dengan beberapa orang berspekulasi bahwa sirene mungkin dipicu oleh F-35 Israel yang beroperasi di wilayah udara Iran. Rumor tersebut diperkuat oleh Radio Farda, cabang Iran dari layanan siaran Radio Free Europe/Radio Liberty yang didanai pemerintah Amerika Serikat (AS).

Belakangan, para pejabat mengindikasikan bahwa sirene berbunyi setelah pesawat penumpang Turkish Airlines tujuan Teheran dari Istanbul mengubah jalur ke Baku, Azerbaijan karena cuaca buruk.

Wakil Gubernur Teheran Hamid Goodarzi, yang bertanggung jawab atas urusan keamanan, mengatakan kepada media lokal bahwa sirene berbunyi karena kesalahan teknis. Dia menepis segala ancaman terhadap keselamatan publik.

Para pengguna media sosial mem-posting rekaman sirene serangan udara saat meraung-raung pada Jumat malam. Salah satunya menyebutkan bahwa raungan sirene terdengar antara 5 hingga 10 menit.

Insiden hari Jumat bukanlah pertama kalinya desas-desus menyebar online tentang Israel menguji jet-jet tempur F-35 mereka terhadap pertahanan udara Iran, di mana sebuah surat kabar Kuwait mengklaim dua tahun lalu bahwa jet tempur siluman generasi kelima itu telah melintasi Suriah ke Irak dan ke Iran, tempat mereka melakukan pengintaian di Bandar Abbas, Isfahan, dan Shiraz.

Media Iran menolak klaim tersebut, dengan menunjukkan bahwa analisis dasar dari karakteristik jangkauan F-35 (1.700 km hingga 2.200 km) akan membuat Israel tidak mungkin terbang jauh-jauh dari Israel ke Iran dan kembali dalam mode siluman tanpa mengisi bahan bakar. Sekadar diketahui, ketika dalam proses pengisian bahan bakar, pesawat canggih seperti itu tidak dapat menyembunyikan posisi mereka.

Teheran juga mengatakan bahwa mereka memiliki kemampuan radar strategis dan seluler canggih yang diperlukan untuk mendeteksi pesawat musuh, termasuk yang memiliki kemampuan siluman. Pada Juni 2019, sistem rudal jarak menengah buatan Iran; Khordad-3, menembak jatuh drone pengintai Amerika Serikat; Global Hawk, senilai USD220 juta dari langit di atas Selat Hormuz.

Raungan sirene pada Jumat malam terdengar di tengah ketegangan yang meningkat di kawasan itu, di mana AS menerbangkan pembom strategis B-52 di Timur Tengah hanya beberapa hari setelah Joe Biden dilantik sebagai presiden menggantikan Donald Trump.

sindonews

Loading...

Ada Kudeta Militer, AS Ancam akan Sanksi Myanmar

Panglima Militer Myanmar Jenderal Min Aung Hlaing. Foto/France24

Jenderal Min Aung Hlaing: Membantai Rohingya, Mengkudeta Aung San Suu Kyi