in

Kerugian Korupsi Asabri dan Jiwasraya Setara Harga 8 Kapal Selam Baru

Kapal selam KRI Nanggala-402 Angkatan Laut Indonesia yang hilang kontak sejak Rabu lalu. Foto/The Star

Tragedi kecelakaan tenggelamnya kapal selam KRI Nanggala 402 milik TNI AL di perairan Utara Bali memunculkan berbagai narasi publik.

Di berbagai lini masa media sosial, tak hanya soal luapan duka untuk para awak, namun juga juga melebar soal keprihatinan alutsista TNI, dana pembangunan ibu kota baru, hingga muncul aksi penggalangan dana oleh pengurus masjid untuk membantu pemerintah membeli kapal selam baru.

Terbaru, banyak pihak yang mengaitkan antara maraknya kasus korupsi di Tanah Air dengan alokasi anggaran peremajaan alustsista TNI yang terbatas.

Salah satunya kasus korupsi dua BUMN perasuransian, PT Jiwasraya (Persero) dan PT Asabri (Persero). Kerugian negara dari kasus rasuah dua perusahaan negara itu juga tak luput dikaitkan dengan anggaran pembelian kapal selam.

Sebagai informasi, dalam kasus korupsi Jiwasraya, kerugian negara menurut taksiran Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mencapai Rp 16,81 triliun.

Sementara untuk kerugian negara dari kasus korupsi penyalahgunaan investasi di tubuh Asabri, jumlahnya jauh lebih besar, yakni mencapai Rp 23,73 triliun menurut versi BPK.

Lalu, berapa jumlah kapal selam yang seandainya bisa dibeli dari uang negara yang hilang dari dua korupsi tersebut?

Jika digabung antara kerugian negara dalam kasus korupsi Asabri dan Jiwasraya, maka besarannya mencapai Rp 40,54 triliun.

Sementara itu, harga kapal selam yang dimiliki TNI AL yakni sekitar Rp 4,79 triliun. Harga kapal selam itu mengacu pada pengadaan terbaru kapal selam dari proyek kerja sama Indonesia-Korea Selatan.

Sebagai informasi, pemerintah Indonesia menargetkan setidaknya memiliki 12 unit kapal selama dalam beberapa tahun ke depan.

Untuk memenuhi target tersebut, Kementerian Pertahanan melakukan kontrak kerja sama pembuatan kapal dengan Korea Selatan yang disertai dengan klausul transfer teknologi.

Perusahaan Korea Selatan dalam proyek tersebut adalah Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering Co., Ltd (DSME), sementara Indonesia diwakili BUMN kapal PT Pal Indonesia (Persero).

Kapal pertama dibangun di Korea Selatan dengan tenaga kerja sepenuhnya berasal dari perusahaan tersebut. Kemudian kapal kedua dibangun di Korea dengan mendatangkan tenaga profesional dari PT PAL sebagai bagian dari alih teknologi.

Sedangkan kapal ketiga sepenuhnya dibangun di fasilitas produksi PT Pal Indonesia (Persero) di Surabaya. Sejauh ini, Indonesia telah menerima tiga kapal selam, yakni Nagapasa, Ardadedali, dan Alugoro.

Kapal selam ini mempunyai panjang 61,3 meter dengan kecepatan kurang lebih 21 knot di bawah air, dan dengan ketahanan berlayar lebih dari 50 hari.

Berdasarkan kontrak, 3 kapal selam kelas Changbogo ini harganya mencapai 1,08 miliar dollar AS atau sekitar 330 juta dollar AS per unit atau setara Rp 4,79 triliun (kurs Rp 14.500).

Harganya ini dinilai jauh lebih murah dibandingkan kapal selam buatan Eropa atau Amerika Serikat yang bisa mencapai Rp 7 triliun.

Dengan asumsi harga kapal selam kelas sedang tersebut, jumlah kerugian negara dari dua kasus korupsi besar Asabri dan Jiwasraya sebesar Rp 40,54 triliun bisa dipakai untuk pembelian 8 unit kapal selam.

Dengan asumsi yang sama untuk pembelian 8 unit kapal kapal, dana kerugian negara tersebut juga masih menyisakan dana sebesar Rp 2,22 triliun.

Loading...

Pengamat Intelijen Sebut KKB Papua akan Digarap Densus 88 usai Ditetapkan Teroris

Para tentara KKB (TPNPB)

Dicap Teroris, OPM Bakal Gugat ke Pengadilan Internasional