in

Terungkap Dokumen Lembaga AS Danai Penelitian Corona di Wuhan

Simulasi saat proses evakuasi pasien positif Virus Corona di Bandara Ahmad Yani Semarang. [Suara.com/Dafi]
Simulasi saat proses evakuasi pasien positif Virus Corona di Bandara Ahmad Yani Semarang. [Suara.com/Dafi]

Sebuah lembaga kesehatan Amerika Serikat disebut mendanai penelitian virus corona di Institut Virologi WuhanChina.

Laboratorium itu terus menjadi perdebatan karena disebut-sebut menjadi tempat awal mula virus corona menyebar akibat penelitian yang bocor pada akhir 2019 lalu.

Dalam dokumen setebal 900 halaman yang didapat The Intercept, lembaga kesehatan EcoHealth Alliance disebut menggunakan uang pemerintah federal AS untuk melakukan proyek penelitian virus corona yang menjangkit kelelawar di laboratorium tersebut.

“(Proposal) itu adalah adalah peta jalan menuju penelitian berisiko tinggi yang dapat menyebabkan pandemi saat ini,” kata Direktur Eksekutif Right To Know, Gary Ruskin, salah satu organisasi yang turut menyelidiki asal-usul Covid-19.

Proposal penelitian berjudul ‘Memahami Risiko Kemunculan Virus Corona Kelelawar’ itu menguraikan niat ambisius EcoHealth Alliance untuk meneliti ribuan sampel kelelawar untuk menciptakan virus corona baru.

Dokumen itu juga memaparkan beberapa detail penting tentang penelitian virus corona di Wuhan, termasuk salah satu eksperimen virus corona terhadap sebuah tikus yang modifikasi sehingga sel-selnya seperti manusia.

Eksperimen itu dilakukan di laboratorium keamanan hayati tingkat 3 di Pusat Percobaan Hewan Universitas Wuhan, bukan di Institut Virologi Wuhan, seperti laporan sebelumnya.

EcoHealth Alliance menggunakan total dana hibah pemerintah federal AS sebesar US43,1 juta, termasuk US$599 ribu untuk penelitian di Institut Virologi Wuhan.

Uang ratusan ribu dolar itu digunakan untuk penelitian mengidentifikasi dan mengubah apakah virus corona yang menjangkit kelelawar kemungkinan dapat menginfeksi manusia.

Jauh sebelum pandemi Covid-19, banyak ilmuwan yang khawatir tentang potensi bahaya terkait penelitian semacam itu.

EcoHealth Alliance pun mengakui dan menjabarkan risiko-risiko tersebut dalam proposal penelitian virus corona.

“Pekerjaan lapangan yang melibatkan risiko tertinggi terpapar SARS atau CoV lainnya, saat bekerja di gua dengan banyak kelelawar di atas kepala mereka yang berpotensi terkontaminasi debu-debu tinja hewan tersebut,” bunyi proposal penelitian EcoHealth Alliance.

Menurut ahli biologi molekuler di Rutgers University, Richard Ebright, dokumen tersebut berisi informasi penting tentang penelitian yang dilakukan di laboratorium Wuhan, termasuk soal pembuatan virus baru.

“Virus yang mereka buat diuji kemampuannya untuk menginfeksi tikus yang direkayasa untuk menampilkan reseptor tipe manusia di sel mereka,” kata Ebright.

Ebright juga mengatakan dokumen tersebut memperjelas bahwa dua jenis virus corona baru dapat menginfeksi tikus yang dimanusiakan.

“Ketika para ilmuwan meneliti virus corona terkait SARS, mereka juga melakukan proyek paralel soal virus corona terkait MERS di saat bersamaan,” kata Ebright.

Seorang ahli biologi molekuler di Broad Institut, Alina Chan, mengatakan dokumen itu menunjukkan bahwa EcoHealth Alliance memiliki alasan menganggap serius teori kebocoran laboratorium sebagai awal mula penyebaran Covid-19 di dunia.

“Dalam proposal itu, mereka sebenarnya menunjukkan bahwa mereka tahu betapa berisikonya penelitian ini. Mereka terus berbicara tentang orang yang berpotensi digigit, dan mereka yang menyimpan catatan semua orang yang digigit,” kata Chan.

“Apakah EcoHealth Alliance memiliki catatan itu? Jika tidak, bagaimana mungkin mereka mengesampingkan risiko kecelakaan terkait penelitian?” paparnya menambahkan.

sumber: cnn

Loading...

Rusia mengerahkan puluhan tank canggih ke pangkalannya di Tajikistan. (Foto: AP/Hayk Baghdasaryan)

Waspadai Afghanistan, Rusia Taruh 30 Tank Baru di Tajikistan

Biro Humas Setjen Kemhan

Menhan RI: Indonesia dan Australia Sepakat Meningkatkan DCA Menjadi Kerjasama Pertahanan Komprehensif